Thursday, August 17, 2006

Cinta Wanita Obat Bagi Pria

Tak perlu bermacam-macam obat untuk membuat pria hidup lebih sehat dan bersemangat. Sebuah penelitian membuktikan, dengan dicintai oleh wanita, pria bisa menjadi lebih sehat serta panjang umur.

Wow!Walau secara imej wanita kerap identik dengan kesan lembut, namun siapa sangka, diam-diam kaum hawa punya pengaruh yang cukup kuat untuk mengubah hidup seorang pria. Dilansir Ebony, Kamis (20/7/2006), sosiologis asal Universitas Chicago menemukan ternyata wanita mempunyai efek meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang umur pria yang dicintainya.

Penelitian ini menyatakan, kehadiran seorang wanita dalam kehidupan seorang pria sangat berpengaruh untuk meningkatkan kualitas kesehatan pria tersebut. Efek ini tak hanya berlaku untuk hubungan suami istri, tapi juga hubungan kakak-adik.

Secara spesifik, penelitian ini menyimpulkan, suami yang istrinya memilih sebagai ibu rumah tangga secara total, kualitas kesehatannya akan meningkat sampai 25%. Jika sang istri atau saudara perempuan sedang tidak berada di rumah untuk waktu yang lama, sang pria bisa mengalami penurunan kualitas hidup secara siginifikan.

Salah satu penjelasan cukup logis dari penelitian ini adalah, sejak dahulu, wanita dikondisikan untuk merawat dan memperhatikan dirinya sendiri. Sedangkan lelaki walau berusaha untuk menunjukkan dirinya kuat di hadapan orang banyak, ketika sampai di rumah bisa saja ia berubah menjadi anak kecil yang manja.

Tak sedikit pria yang tidak bisa hidup tanpa adanya bantuan wanita. Misalnya saja untuk hal-hal kecil seperti mengingatkan minum obat atau pergi ke dokter, kerap kali pria harus diingatkan oleh wanita. Intinya, pada kehidupan sehari-hari di dalam rumah, wanita sering berperan untuk membantu pria mengurangi stress dan meningkatkan tingkat kesehatannya.

Penelitian lain juga telah membuktikan, pria yang telah menikah memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang dan merasa hidupnya lebih bahagia. Menurut penelitian tersebut cinta dan perhatian yang terus menerus dari wanita bisa membuat pria lebih kuat dan lebih hidup.(Putri Fatia/fta)

Sumber: Detik.com, 28 Juli 2006

Tuesday, August 15, 2006

Cerpen: Aku dan Mama

Aku dan Mama
Oleh: Nursalam AR
Aku meringis menahan sakit. Perlahan aku ketuk pintu kamar itu. Tidak ada jawaban dari dalam. Kudorong sedikit. Ternyata tidak terkunci. Kulongokkan kepala. Mama sedang berbicara di telepon genggamnya. Sesekali terdengar gelak tawanya. Mama tampak gembira sekali.

“Begitulah, Jeng, kita harus maju terus. Biar pun jumlah kita sedikit, kita punya dukungan media massa!” Lantas Mama terdiam. Asap rokok putihnya mengepul.

“Ya, iyalah. Biar mereka demo sejuta atau dua juta orang, kalau ga ada TV yang liput ya nihil juga to? Lagian soal begituan kok diatur-atur segala. Porno atau tidak, itu kan tergantung pikiran kita. Kalo iman kita kuat, masak sih tergoda!” sahut Mama tangkas. Ia meneguk kopinya.

Mama tertawa lagi mendengar balasan di ujung telepon.

“Ah, Jeng Rieke bisa aja. Tapi betul juga sih bisa mati juga rejeki kamu ya. Dasar selebritis!” Gelak tawa Mama kian menggelegar. Membelah sunyi malam di kompleks elite ini.

“Oke, sampai ketemu pada rapat besok sore ya. Sorry, aku mungkin agak telat. Aku harus kasih kuliah dulu di fakultas. Ini lagi ketik makalahnya. Okay, see you. Daag!”

Mama tersenyum menutup telepon genggamnya. Sejenak kemudian ia baru menyadari kehadiranku, putri tunggalnya.

“Eh, sudah lama, Sayang?” sambutnya seraya lekas mematikan rokok di asbak.

“Mama sih lama banget telponnya,” ujarku merajuk. Aku menyurukkan kepalaku ke pangkuannya. Hangat. Tangan Mang Dimin,sopirku, yang sering menjawil pipiku juga hangat.

Mama tertawa. Ia membelai dan mendekapku. “Kamu kok belum tidur, Honey?”

“Enggak tau. Nggak bisa tidur aja. Mama masih mau ngetik?” tanyaku. Kulihat layar laptopnya menyala. “Ma, Tini mau tanya sesuatu. Boleh?”

“Boleh dong, Sayang. Tapi tunggu sebentar ya. Mama selesaikan dulu barang lima menit. Setelah itu Mama antar kamu ke kamar. Kamu mau Mama lanjutin dongeng yang kemarin kan?”

Bukan itu sebetulnya. Tetapi aku tersenyum saja. Mamaku ini memang pandai sekali bercerita. Setiap malam, sejak aku bayi, kata Mama, aku selalu didongenginya bermacam-macam cerita. Sampai aku kelas satu SD seperti sekarang, aku tidak pernah bosan. Ada saja dongengnya yang menarik.

Mama mengecup dahiku. Lantas meneruskan mengetik dengan jari-jarinya yang lentik. Mamaku cantik lho, pintar pula. Dia dosen. Sering juga menjadi pembicara di seminar-seminar. Aku sering diajaknya ikut seminar di hotel-hotel berbintang meskipun aku tidak mengerti apa yang orang-orang dewasa itu bicarakan. Tapi aku senang kok. Snack seminarnya enak-enak. Pesertanya ramai pula. Jadi seru aja buatku. Eh, tadi sore Mang Dimin juga bilang aku cantik!

Aku berjinjit melihat layar laptop yang terletak di atas meja kerja Mama. Mama sedang serius sekali. Kueeja judul besar di layar itu: KERAGAMAN BUDAYA DAN UNDANG-UNDANG ANTIPORNOGRAFI DAN PORNOAKSI. Apa sih maksudnya?

Rasanya berat otak kecilku mencernanya. Mendadak aku merasa mengantuk sekali. Aku naik ke pangkuan Mama. Kubenamkan tubuhku di dadanya. Bertahun-tahun kunikmati kehangatan seorang Mama. Tapi aku tak pernah tahu di mana Papa. Papa sedang ke luar negeri, ujar Mama selalu. Tapi kok tidak pulang-pulang ya?

Jam Junghun besar di kamar Mama berdentang sepuluh kali. Aku merasa lelah sekali. Di antara kedua selangkanganku masih nyeri. Tadi sore Mang Dimin mengajakku bermain permainan yang aneh di kamarnya. Katanya belajar dari VCD. Itu yang ingin kutanyakan pada Mama. Namun Mama terus saja mengetik. Hanya sunyi kemudian yang kudengar.
Jakarta, Mei-Juli 2006.

Puisi-Puisi Sosial by Nursalam AR

Episode Palestina

Ismail diburu Haim*)
Darahnya mawar di taman nabi
Gemetar surga Naim
Songsong jasad bani Ibrahim
Menggelinjang bidadari perawan
Dekap syuhada berkafan iman

Jakarta, Rajab 1427 H

Catatan: *) Nama yang banyak digunakan di Israel


Menangkap Waktu
(sehari dalam hidup seorang pengangguran)

Ketika aku melamun
menyergap binatang buas bernama waktu
memamah detik demi detikku
kukejar ia ke segala penjuru
tiada dapat walau sekadar bayang
kian kuburu kian musnah waktuku dicurinya
aku insyaf. Aku kejar atau aku diamkan
binatang itu terus berlari
akhirnya aku tangkap ia dengan senyum kemenangan
aku biarkan ia memamah dan berlari
toh, mungkin demikian takdirNya.

Jakarta, Juni 2002


Turis dan Bola Golf

Turis bule datang ke negri ini
Sambil tenteng stick golf
Main di padang golf ratusan hektar
Lalu makan siang di restoran—bekas kuburan
Suap roti
Ngeganjal di kerongkongannya, bola golf
Telan burger
Nongol di sela gigi, bola golf
Sedot bir
Ngambang di atas busa, bola golf
Ia pusing dan pergi refreshing
Ke puncak gunung yang hening
Di sana, di beningnya alam
Batok kepalanya tertimpa bola golf
"Ah, negri ini terlalu penuh bola golf,"
keluhnya sambil angkat koper pulang.

Jkt, 2001


Hidup yang Nyata

Suara serak khotib menjemputku ke dunia nyata, bukan mimpi maya.
Ah, hidup menguji siapa mukmin dan siapa kafir
Sakit menguji siapa yang peduli dan siapa yang lari
Sehat menguji siapa yang memberi dan siapa yang menadah
O, Tuhan, kini kutahu kenapa aku terlahir sendiri
Karena inilah seninya mencari kepedulian sejati di segala situasi.

Pengadegan, Nov. 2005


Doa di Ujung Malam

Allah,
Kubersujud di muka gerbangMu
Runduk senista debu kaki
Airmata meruah--sesali usia yang terbentang
Hatiku, ya Robbi, singgasana qobil dan fir'aun
Yang tak kunjung abu dibakar waktu
Asaku gelisah
Akankah kujemput hidayahMu kembali?

Syawal, 1422 H

Puisi-Puisi Hati by Nursalam AR

Membaca Wanita

Aku tak pernah bisa membaca dirimu hanya dengan satu macam aksara
Kadang semudah mengeja huruf latin; seringkali serumit aksara cina
Ah! Ada misteri di antara koma dan titik dirimu
Mungkin wanita adalah buku yang tidak pernah dapat dibaca tuntas
atau belum rampung ditulis Tuhan?

Pengadegan, Nov. '05


Maaf Pagi

Pagi cerah, sayang
Semoga sesumringah senyummu semalam
Aku utus merpati rinduku ke jendela hatimu
Kirimkan maaf bersampul cinta
Adakah pintu maaf untukku?

Pengadegan, Nov.'05


Bisik Malam

Dear, dah bobo ya?
Moga tidurnya tentram ya, tidak dalam kondisi amarah
Tidak habis ribut lagi khan?
Andai aku di sana, ingin kucubit lengan mulusmu
Sambil berbisik mesra di cupingmu, "Sayang, senja itu tak pernah merah menyala. Ia
hanya merah jingga."
Seindah rona wajahmu ketika kecupan pertama
Selembut bibirmu mencumbu.

Pengadegan, Nov.'05


Lullaby

Selamat tidur, Senja
Jadikan malam sebagai tilam peraduan dan bukan waktu lamunan mengawang
Karena dunia tak berubah dengan lamunan
Ia bergerak karena ada tindakan
Nasib adalah dunia

Pengadegan, Syawal 1426 H


Rayu Malam

Sayang,
Anggun itu ibarat rona lembayung senja di ufuk barat, membuncah kemerahan seperti
tomat di pipi putih bayi.
Seperti lesung pipitmu yang ingin kuselami dengan bibirku.

Pengadegan, Syawal 2005



Ode Cinta untuk Sahabat

Cinta datang dan pergi
Bekaskan nyeri dan rindu
Ternyata waktu tak kunjung mujarab
Memusnahkan rasa
Kian dipendam kian mendalam luka
Kian dilupa kian merindu gila
Dapatkah arloji diputar kembali?
'kan kuperbaiki waktu demimu, Sahabat.

Jakarta, 2003


Puisi Luka

Hujan setahun dihapus panas sehari
Ketika telunjuk menuding
Empat jari lainnya mengarah pada diri sendiri
Karang mengeras dihajar palu
Namun luluh disaput air
Aku ingin seperti pohon buah,
Dilempari batu
Tetapi memberi buah sebagai balasnya
Tapi aku manusia biasa
Punya hati dan rasa
Aku lelah, selalu salah dan mengalah
Biarlah luka ini kubawa berlari, dalam pasrah.

Jkt, 2004



Sedih

Sedih atas kesedihan
Adalah menggarami garam
Bila cuma menangisi malam
Ia mujarab
Saat mencambuk dada agar rela
Menerima malam adalah malam
Malam bergilir siang sesungguhnya iman.
Jkt, Agustus '02


Elegi Lajang

Malam merayap siput. Hujan menderap
Sepi meranggas hati. Dingin mendekap naluri
Mata susah pejam, angan layang liar
Kuraba sisi kasur. Kosong
Kapankah ia berpenghuni?
Hanya Takdir yang tahu
Sebagaimana pengetahuanNya akan rizki dan mati.

Pengadegan, 2002-2006


Dialog Sejoli Akhir Zaman

+ Aku ingin baca puisi untukmu, Kasih

- Aku tak butuh kata. Aku butuh nasi!

+ Seriuslah. Aku ingin baca puisi untukmu, sungguh!

- Kenapa harus serius jika kau terus mengigau
singkirkan tangis bombaymu
sekarang bukan jaman pujangga baru
apalagi kurun si tua fansuri
chairil telah mati
yang tersisa pun di ambang usia dalam makna raga dan karya
kini kita tak butuh kata, sayang
kata adalah candu
menyenyakkan para pengikut
dan senjata jitu kaum benalu

+ Enyahlah kau dari hadapan
dan bayangan. Musnahlah dari angan
Orang yang tak menghargai puisi
adalah mayat hidup
yang mati jiwa, mati rasa dan mati harga diri
Jika bukan puisi,
apalagi harta berharga yang tersisa di negri ini?
Saat bocah-bocah saling tikam dan memperkosa
Saat wilayah menyempit dan terobral percuma
Saat pemimpin ditunggangi gembala asing
Saat anak negri hanya kenal satu kata: kenikmatan!
Saat fatwa ulama sebagai barang langka dalam cagar budaya
Hanya puisi yang bicara jujur:
Kita telah menzinai ibu pertiwi
dan menjajakannya sebagai lonte obralan.

Sepi. Dengus geram. Gaduh lantas mati abadi
Yang satu mati raga
Yang lain mati rasa
kehilangan payudaranya: cinta dan endapan kata - puisi
namun sang puisi pun hanya menangis sunyi
di pojok sejarah. Ia pun korban.
Bukan pahlawan.

Jakarta, 2003-2006


Syair Hati

Bila hati diikat dunia
jiwa tak kuasa mengembara
ruangnya sebatas pandangan mata
yang rabun jarak dan maya

Bila hati diikat zikir
jiwa leluasa berkelana
ruangnya seluas fikir
yang tabu tafsir makna
ia terbang mengawang
menuju ridhoNya

Jakarta, Syawal 1423 H

Friday, August 11, 2006

Resensi Novel "24 Wajah Billy"

Jika belum sempat membaca novelnya, baca dulu deh resensinya. Baru lanjut ke sekuelnya yang sudah terbit di berbagai toko buku.

Selamat memaknai!

==========================
24 Wajah Billy: Kisah Tanpa Titik
Oleh Nursalam AR*)

24 Wajah Billy
· Judul asli: The Minds of Billy Milligan
· Penulis: Daniel Keyes
· Penerjemah: Miriasti dan Meda Satrio
· Penyunting: Budhyastuti R.H.
· Penerbit: Qanita, Bandung
· Cetakan: I, Juli 2005
· Tebal: 699 halaman
“Kenalilah dirimu,” pesan Iman Ghazali, sang pemikir besar Islam bergelar Hujjatul Islam yang terkenal dengan produktivitas dan kedalaman karya-karyanya seperti Ihya Ulumuddin dan Tahafut Al Falasifah. Dengan nada yang sama, Plato dan Aristoteles menggaungkannya sejak ribuan tahun lalu. Sungguh, mengenali diri sendiri adalah sebuah misteri kehidupan dan peradaban sepanjang masa. Telah banyak buku ditulis tentang bagaimana mengenal diri, namun fakta-fakta baru tentang fenomena diri dan kepribadian terus bermunculan, dengan mengejutkan. Sebelumnya, Sybil menghentak dengan 16 kepribadian yang dimilikinya. Kisah hidupnya telah dibukukan dengan judul yang sama dan diterjemahkan oleh Prof. Sarlito Wirawan Sarwono yang juga memberikan endorsement (pujian) atas penerbitan novel 24 Wajah Billy ini.

Kasus William Stanley (Billy) Milligan dari Ohio, Amerika Serikat, pada penghujung tahun 1970-an ini menambah deret panjang fenomena sosial tersebut, di mana kasus Billy, orang dengan kepribadian majemuk ini (untuk menghindari stigmatisasi kata ‘penderita’), merupakan satu dari sekian banyak eksperimen alamiah yang akan menjelaskan jauh lebih banyak hal kepada kita, tentang kita sendiri (hal. 696).

Bagaimana kita memahami bahwa dalam diri seseorang bersemayam beragam kepribadian yang bertolakbelakang? Ia pria Inggris yang cerdas dan rasional (Arthur) sekaligus orang Balkan yang jago bela diri dan emosional (Ragen); penjahat brutal yang kasar (Philip) tapi sekaligus bocah tanggung yang sangat penakut (Danny); perempuan lesbian yang haus belaian (Adalana) dan gadis cilik usia tiga tahun penderita disleksia (Christene)?

Billy Milligan ditangkap karena melakukan serangkaian tindak kriminal yang dilakukan 2 (Kevin dan Philip) dari 24 kepribadian yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya, pria tampan berusia 26 tahun ini ditangkap karena memperkosa tiga orang mahasiswi di kampus Ohio State University. Tim pembelanya dengan bantuan Dr. Caul, seorang psikiater yang berempati pada Billy, berupaya membuktikan—di tengah intervensi politisi dan pengadilan publik via media massa--bahwa Billy tidak bersalah karena semua tindak kriminal tersebut dilakukan tanpa disadari pribadi intinya (yang disebut Billy-Unfused atau Billy-U) karena ke-23 pribadi yang lain silih berganti muncul ke ‘tempat utama’ (dengan komando Arthur) dan kerap membuatnya kehilangan waktu dan tampak aneh sekaligus memiliki berbagai bakat seperti bela diri, melukis, bahasa asing atau kedokteran. Tahun 1988, setelah sepuluh tahun mendekam di rumah sakit jiwa, Billy dibebaskan dengan pribadi yang menyatu (yang disebut sang Guru) dan tinggal di California dan memiliki perusahaan film Stormy Life Productions.

Tema yang unik ditambah penuturan cerita yang runut menjadikan membaca novel yang tebalnya dua kali tebal novel pada umumnya ini cukup mengasyikkan. Meski pembukaan awal terasa lamban dan membosankan, alur mengalir mulus dan menggigit dengan cerita yang kompleks, lebih rumit dan sangat filmis. Berbeda dengan pola-pola multiple personality (kepribadian majemuk) yang umum dikenal dan menjadi ikon dalam benak masyarakat, seperti Dr. Banner dalam komik dan film Hulk atau legenda dari Inggris Dr. Jekyll & Mr. Hyde karya R.L Stevenson dalam The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang cenderung hitam putih di mana seseorang yang baik hati dan dermawan dapat berubah menjadi monster yang perkasa dan menakutkan yang mengusung misi kebenaran seperti lazimnya cerita-cerita klasik.

Inilah bedanya novel 24 wajah Billy. Novel ini tidak bertendensi menghadirkan kebenaran mono-tafsir atau melulu menjadi pahlawan seperti Hulk atau The Flash, ia menghadirkan realitas kemanusiaan dengan pemaknaan yang multi-tafsir. Billy terasa dekat dengan kita karena ia bukan superhero yang selalu benar atau menang. Ia manusia biasa yang gembira, kecewa, atau sedih bahkan sedemikian frustrasinya hingga berulangkali berupaya bunuh diri—bahkan ketika sekalipun yang berada di tempat utama adalah Arthur yang sangat rasional dan menganggap bunuh diri adalah perbuatan tolol. Persis seperti pepatah, life is stranger than fiction, kehidupan nyata lebih aneh dari cerita fiksi, demikian yang tergambar dalam novel ini. Betapa kehidupan Billy yang demikian dramatis dan filmis cocok sekali diangkat ke layar lebar (sekaligus disunting) oleh tokoh utamanya sendiri dengan judul The Crowded Room yang disutradarai Joel Schumacher.

Kelemahan novel ini, jika boleh dikatakan demikian, adalah gaya penerjemahan yang kaku bahkan terkesan letterlijk serta kurang cermat dengan data yang berpengaruh memperlambat laju mesin cerita. Di samping itu, cenderung terlalu bergaya ala Jakarta (baca: cair) seperti kata-kata “tauk” atau “ga” yang ditaruh dalam tuturan narasi, yang kurang dapat dibenarkan dari segi EYD. Kalaupun diniatkan sebagai sebuah hal yang sah dalam sastra—karena novel adalah karya sastra-- yang menjunjung kreativitas, gaya cuek ala Betawi tersebut mengurangi keanggunan bangunan cerita yang kokoh atau seperti pengganjal laju tuturan. Kecuali, jika ditempatkan dalam dialog, yang tentunya sesuai konteks, misalnya dalam percakapan yang dilakukan Billy—dalam pribadi Allen—yang berbisnis narkoba atau sumpah-serapah Ragen atau Tommy yang berwatak keras dan antisosial. Untungnya semua celah tersebut tertutupi dengan materi cerita yang dahsyat. Tetapi tentu novel ini akan lebih nikmat jika diolah dengan cara penerjemahan yang akurat dan cermat.

Di samping itu, dalam membaca novel ini, kita dipaksa memamah sederet fakta dan hasil riset ilmiah yang bagi kalangan selain kedokteran dan pskiatri agak lelah mencernanya. Namun, mungkin demikian konsekuensi novel yang berdasarkan kisah nyata. Ia dituntut harus tetap fasih bercerita seraya anggun berkompromi dengan tuntutan pasar serta industri yang menuntut standar mainstream novel fiksi: dialog yang terarah, klimaks, ketegangan dan antiklimaks, yang dicapai dengan salah satu bentuk kompromi yang diakui penulis sendiri yakni dengan menciptakan dramatisasi-dramatisasi atas dasar ‘kebebasan penyair’ (hal. 16)—tidak dengan tujuan menambah seru cerita karena bahan bakunya sendiri sudah sangat mendukung—tetapi agar lebih masuk dalam logika masyarakat yang terbiasa dengan kaidah bacaan fiksi konvensional.

Akhir cerita novel yang menggantung mungkin terasa kurang greget atau kurang bersantan dalam selera konvensional yang terbiasa dengan akhir cerita yang umumnya tuntas (happy ending atau sad ending). Namun, memang harus demikian, karena selain tokoh utama masih hidup dan berkutat dengan dunianya yang baru setelah menjadi pribadi yang utuh, tema tentang mengenal diri memang takkan pernah berakhir, tiada titik, hanya koma.
*) Penerjemah lepas dan penikmat buku

Thursday, August 10, 2006

Intellectual Idol

Intellectual Idol: Paradoks Reformasi
Oleh Nursalam AR*)
Ada fakta menggelitik sekaligus ironis menjelang sewindu pergerakan reformasi di Indonesia (1998-2006). Sejarah mencatat, sebagai musuh abadi, kaum intelektual memiliki saham besar dalam setiap proses keruntuhan rezim otoritarian. Sejak zaman Kaisar Louis XIV (Perancis), Syah Pahlevi (Iran), Czecescu (Rumania), Pinochet (Chili) hingga Park Chung Hee (Korea Selatan). Bahkan Soeharto sebagai simbol Orde Baru di Indonesia —sekaligus rezim terkuat dan terawet di Asia Tenggara-- ditumbangkan oleh gerakan reformasi 1998 yang dimotori kalangan mahasiswa. Namun, gerakan kolektif dan masif yang dimotori mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual untuk menentang suatu rezim otoritarian di Indonesia tersebut—yang bahkan menjadi model perjuangan serupa di Zimbabwe, Myanmar atau Filipina sehingga dijuluki “student miracle”—ternyata tidak dilakoni oleh kaum intelektual dalam artian sejati—yang giat mengkampanyekan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan-tulisan seperti gerakan perlawanan serupa di Korea Selatan, Kuba, Chili atau Indonesia era 1966 yang diwarnai kehadiran harian Angkatan ’66, Angkatan Baru (HMI), KAMI (pimpinan Nono Anwar Makarim) dan Mahasiswa Indonesia edisi Bandung (pimpinan Rahman Tolleng) yang merupakan koran-koran mahasiswa terbesar berskala nasional yang turut dibreidel pada peristiwa Malari 1974 setelah bertahan sejak 1966.
Tipe aktivis ’98 adalah aktivis jalanan yang berdiskusi di kafe dan mengorganisir aksi-aksi massa secara sporadis, dan tidak menyuguhkan wacana intelektual alternatif melalui tulisan-tulisan media massa kepada publik untuk kemudian ditindaklanjuti dengan aksi massa seperti pada era Soe Hok Gie (1966) atau Soekarno semasa menjadi mahasiswa ITB dengan Indonesia Menggugat dan Di Bawah Bendera Revolusi-nya(1920an). Hanya segelintir aktivis yang rela berjuang dalam sunyi menggulirkan wacana-wacana alternatif di surat kabar kampus atau nasional ketimbang larut dalam gemerlap lampu sorot TV dan kerumunan wartawan selepas pers conference, demonstrasi atau seminar ala selebritis. Barangkali, tanpa bermaksud menuding, inilah refleksi dari kemampuan intelektual mahasiswa Indonesia era 90-an yang disebut sang penyair Taufik Ismail sebagai “rabun membaca dan lumpuh menulis”. Barangkali ini pula yang menyebabkan agenda reformasi tak kunjung tuntas.
Sebagai elemen elite masyarakat atau—dalam bahasa Soe Hok Gie—“the happy selected few”, kaum intelektual yang persentasenya dalam masyarakat ibarat lapisan tipis kulit bawang memiliki tradisi—yang mencerminkan kematangan intelektual sebagai buah pendidikan yang dienyam—budaya literasi (budaya baca-tulis) yang tinggi, aktif membaca dan produktif menulis. Inilah budaya yang merupakan puncak peradaban intelektual manusia; cerminan masyarakat yang matang. Bahkan negara-negara maju rata-rata memiliki budaya literasi yang kuat sebagai parameter tebal-tipisnya lapisan intelektual di suatu negeri.
Tingginya tingkat budaya literasi adalah simbol jiwa yang merdeka, merdeka berpikir, salah satunya. Kemerdekaan berpikir adalah hak asasi umat manusia yang dianugerahkan Tuhan. Kekuasaan negara sekalipun tak berhak merenggut kemerdekaan tersebut. “Orang tidak dapat dihalang-halangi untuk memikirkan apa saja yang ia kehendaki selama ia menyembunyikan buah pikirannya. Pekerjaan otak hanya dibatasi oleh batas-batas pengalamannya dan daya khayalnya,” tulis J.B Buri dalam Sejarah Kemerdekaan Berpikir (1963). Kemerdekaan berpikir secara inheren merupakan satu mata rantai tak terpisahkan dengan kemerdekaan berpendapat. Ekspresi dari sebuah pemikiran adalah pendapat yang tercurah melalui lisan atau tulisan. Terlebih manusia secara naluriah mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan menyalurkan gagasan-gagasannya.
Salah satu kesalahan terbesar rezim Orde Baru—dan rezim-rezim otoritarian lainnya--adalah menindas kemerdekaan berpikir rakyatnya. Rezim Orde Baru adalah sebuah sistem di mana feodalisme mendapatkan ruang hidupnya. Setidaknya ada tiga hal yang diberangus di dalam sistem Orde Baru menurut Yasraf Amir Piliang(2001), yaitu (1) daya kritis, (2) daya kreatif, dan (3) daya spiritualitas. Dengan tidak berkembangnya daya kritis maka tidak berkembang pula daya kreatif. Masyarakat selalu diselimuti ketakutan untuk menyampaikan ide-ide baru. Ide-ide baru justru jatuh dari atas. Secara riil, rezim Orde Baru konsisten melakukan hal tersebut—yang juga dilakukan rezim-rezim despotik di manapun dan kapanpun—secara masif dan eskalatif terutama dengan kebijakan P-4 dan asas tunggal Pancasila. Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities (1981) mengilustrasikan mesin-mesin pikiran Orde Baru menciptakan sebuah masyarakat yang mayoritas diam (silent majority), yang bagaikan sebuah sarang laba-laba, menangkap dan memamah apapun yang disuguhkan kepada mereka oleh siapapun termasuk penguasa.
Inilah paradoks reformasi di Indonesia. Tak hanya kalangan aktivis mahasiswa, paradoks ini juga menjangkiti senior-seniornya, para intelektual tamatan perguruan tinggi yang menjadi dosen atau pegawai negeri dan banyak nyambi sebagai staf ahli menteri atau think-thank pemerintah. Kegemaran tampil sebagai idol—dalam kancah yang disorot publik dan dielu-elukan massa—menyebabkan mereka lebih senang berbicara di ruang-ruang seminar ketimbang menulis di media yang lebih bernas namun sunyi applause. Tak jarang pula mereka berselingkuh dengan rezim despotik dan mencari “kerajaan di dunia ini” dengan berlindung di balik tampuk kekuasaan dan mempertaruhkan otoritas keilmuannya sebagai tameng kekuasaan berlabel “cendekiawan” beserta tameng-tameng lain yang berlabel “militer”, “birokrat” maupun “pemuka agama” untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak pro-publik dengan dalil-dalil ilmiah. Tak luput pada masa SBY-JK dengan mengatasnamakan lembaga survei yang menjustifikasi kenaikan harga BBM yang irasional dan segala keberhasilan parsial pemerintah saat ini.
Padahal sejarah peradaban menyiratkan bahwa musuh permanen penguasa yang despotik atau rezim otoritarian—yang membelenggu kemerdekaan jiwa--adalah kaum intelektual. Mengapa? Seorang Julien Benda menemukan jawabnya,“Intelektual adalah orang-orang yang kegiatan hakikinya bukan mengejar tujuan-tujuan praktis. Kaum intelektual adalah orang-orang yang mencari kegembiraan dalam lapangan kesenian, ilmu pengetahuan atau teka-teki metafisika. Singkatnya, dalam hal-hal yang tidak menghasilkan keuntungan kebendaan, dan dengan demikian—dalam artian tertentu—kerajaannya bukanlah di dunia ini.” (The Treasons of The Intellectuals, 1928)
Bagi Julien Benda, intelektual yang menyimpang dari kualifikasi tersebut adalah pengkhianat (traitor). Kendati dalam beberapa hal pandangan Benda masih dapat diperdebatkan (debatable) namun esensi argumentasinya adalah betapa pentingnya kaum intelektual memegang teguh idealisme kemanusiaan dan etika otoritas keilmuannya. Dalam bahasa Edward Schills (1972), “Kaum cendekiawan adalah orang-orang yang mencari kebenaran.”
Namun, teori adalah satu hal dan Indonesia adalah hal yang lain. Tak salah bila Indonesia dijuluki the land of possibilities, negeri tempat segala kemungkinan dapat terjadi bahkan segala kemungkinan yang meruntuhkan teori-teori baku dalam politik dan sosial-budaya. Termasuk sistem pendidikan Orde Baru yang membelenggu kemerdekaan berpikir tetapi sukses melahirkan “anak-anak muda pemberang’’—meminjam istilah Jose Anwar, aktivis ’66—yang merontokkan sistem politik Orde Baru itu sendiri yang sekaligus mentransformasi citra intelektual-aktivis yang penulis-ideologis menjadi sosok aktivis-selebritis yang friendly bahkan bergenit-genit dengan industri media. Mungkin suatu saat kita perlu adakan polling SMS untuk memilih intellectual idol of the year. Bagaimana?
*) Penulis adalah penerjemah lepas dan mantan aktivis mahasiswa Universitas Indonesia.
Dimuat di Koran Pak Oles (Bali) Edisi 97 16-31 Januari 2006, hal.6.

Launching Kumcer "Orang-Orang Pinggiran" 5 Sept 2006

Berikut update info tentang peluncuran kumpulan cerpen "Orang-Orang Pinggiran" yang dieditori Rosidi Eros (editor lepas dari Jawa Tengah).

=====================
Salam budaya,

Diberitahukan kepada segenap kawan-kawan, bahwa kumcer amal orang-orang marjinal sebentar lagi terbit. Buku itu berjudul “The Regala 204 B”, diambil dari cerpen kiriman Nera Andiyanti. Untuk itu, mohon kepada para penulis yang lolos seleksi, mengirimkan alamat lengkap, untuk pengiriman buku.
Rencananya, buku itu akan dilaunching pada 5 September, yang digarap oleh kawan2 surat kabar mahasiswa (SKM) AMANAT IAIN Walisongo Semarang, bekerjasama dengan Perpustakaan IAIN Walisongo serta American Corner. Peluncuran diawali dengan diskusi dengan tema “Sastra Marjinal”, yang rencananya menghadirkan Triyanto Triwikromo (Redaktur Budaya Suara Merdeka), S. Prasetyo Utomo (Cerpenis, penulis buku “Bidadari Meniti Pelangi”) dan saya mohon perwakilan dari penulis yang dekat dengan Semarang, yaitu (Mas) Sunlie Thomas Alexander (Mohon bisa menghubungi saya di: 081325098806).
Nama – nama penulis kumcer amal orang-orang pinggiran:

No. Nama Judul
1 Nera Andiyanti The Regala 204B
2 Indarpati Kurir
3 Anita Kapal-kapal Kertas
4 Ragdi F. Daye Air Dingin
5 Nursalam AR Catatan Harian Gembel Cilik
6 Abdullah Khusairi Entah Leher Siapa Lagi
7 Udo Z. Karzi Di Sebuah Persimpangan
8 Sunlie Thomas Alexander Dapur
9 Fitri Mayani Ibu
10 Joko Nugroho Dara Jelita Dan Kedua Mata yang Bersamudera
11 St. Fatimah Senja Itu Mati Rasa

Demikian informasi ini saya sampaikan. Mohon maaf atas keterlambatannya.

Salam,

Rosidi

Tuesday, August 08, 2006

'Pesan Ajal' dalam Antologi Puisi Jogja

Ini salah satu puisi saya yang berhasil masuk dalam antologi puisi amal 'Empati Jogja' yang terselenggara atas kerjasama Komunitas Puisi FLP dan PortalInfaq. Seluruh keuntungan bersih penjualan buku ini akan disumbangkan kepada korban gempa bumi di Jogja dan (mungkin) korban bencana alam lainnya di tanah air.

Alhamdullillah, Ya Allah, moga ini langkah awal menuju kebermanfaatan yang lebih bagi orang melalui jalur kepenulisan. Amien ya robbal 'alamien...

======================

Pesan Ajal
Oleh: Nursalam AR

Di pojok rumah sakit darurat
Seorang bapak renta di ambang ajal, tersengal
Ia berpesan pada putranya
Yang meratap, memegangi erat tangan kulit jeruk tuanya
"Anakku, nikmat adalah nikmat tatkala tiada
Saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada."
Sang bapak pamit pergi, tidak untuk kembali
Ialah sang waktu
Kita adalah putranya
Yang acapkali mendurhakainya
Yang hanya sadar jika bencana menimpa
Dan kembali lupa setelahnya.

-Jakarta, 16 Juni 2006-

Bahasa Indonesia vs Bahasa Malaysia

*SUKA DUKA BERBAHASA SERUMPUN*
Oleh Sofia Mansoor*

Mungkin cerita paling populer mengenai kesalahpahaman antara orang
Indonesia dan Malaysia adalah makna di balik kata "pusing". Bila Anda
diajak
"pusing-pusing" oleh orang Malaysia, jangan pusing dulu, karena ia hanya
mengajak Anda "makan angin" alias jalan-jalan. Jadi, tak ada hubungannya
dengan pusing yang berarti sakit kepala.

o0o

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika pertama kali menonton program TV
Malaysia melalui saluran TV-3 dan RTM-1, saya sulit sekali memahami apa
yang
dikatakan oleh penyiar mereka. Apalagi sinetronnya, sama sekali tidak
bisa
dipahami. Sekarang, setelah hampir setiap tahun berkunjung ke Kuala
Lumpurdan semakin sering kontak dengan bahasa tersebut, kendala itu
berangsur-angsur berkurang. Namun, pahit-manisnya pengalaman yang
bersangkutan dengan bahasa Malaysia mungkin ada gunanya diketahui
pembaca *Wisata
Kata* untuk memperkaya kosakata dalam bahasa serumpun ini.

*Ibu **Malaysia** vs Ibu **Indonesia***

Pengalaman paling pahit yang saya alami adalah yang berkenaan dengan
kata
panggilan "Ibu". Ketika baru lulus sebagai sarjana farmasi dari ITB,
saya
langsung ditawari bekerja sebagai dosen junior di lab farmakologi. Saya
masih ingat, dosen senior yang mengepalai lab itu memperkenalkan saya
kepada
para mahasiswa sebagai "Ibu Sofia". Padahal, banyak di antara mahasiswa
peserta praktikum itu yang lebih tua daripada saya. Tentu saja sang
dosen
senior itu menghendaki agar peserta praktikum menghormati saya sebagai
asistennya, walaupun waktu itu usia saya belum ada seperempat abad dan
saya
masih berstatus nona, alias belum menikah.

Nah, dalam sebuah seminar di Kuala Lumpur, saya mengajukan pertanyaan
kepada seorang pembicara wanita yang saya perkirakan berusia sekitar 40
tahunan. Untuk menghormatinya, saya menyapanya dengan panggilan "Ibu".
Pembicara itu ternyata sangat marah karena menganggap saya telah
menghinanya. Dia bersungut-sungut dengan mengatakan bahwa jangankan
punya
anak, menikah pun dia belum pernah! Mula-mula saya tidak mengerti
mengapa
dia marah-marah. Setelah acara tanya-jawab berakhir, seorang teman
wanita
berkebangsaan Malaysia yang pernah lama tinggal di Indonesia menjelaskan
kepada saya bahwa, berbeda dengan di Indonesia, panggilan "Ibu" di
Malaysia
hanya ditujukan kepada wanita yang sudah punya anak atau wanita yang
dianggap sudah tua. Sejak itu, saya selalu berhati-hati menyapa orang di
Malaysia, apalagi kaum wanitanya.
Yang paling aman adalah menyapa wanita dengan *Cik* yang berarti nona,
kecuali bila kita yakin benar bahwa wanita itu sudah menikah; dia bisa
disapa dengan sebutan *Puan*.

*Ibu Pejabat Polis*

Sekarang, bisakah Anda menebak apa yang dimaksud dengan "*Ibu Pejabat
Polis*?
Bukan, bukan istri Kapolri atau istri Kapolda. *Polis* tentu saja
artinya *
polisi*, bukan polis asuransi. Tetapi, *pejabat* versi Malaysia tidak
sama
dengan pejabat versi kita, karena di Malaysia, kata *pejabat* artinya
sama
dengan *kantor* di Indonesia! Nah, *pejabat polis* tentu berarti *kantor
polisi*. Tetapi, apa hubungan antara kantor polisi dengan ibu? Ternyata
*ibu
* di sini berarti *pusat* dalam bahasa kita, seperti *ibukota*. Maka,
*Ibu
Pejabat Polis* tidak lain adalah* Kantor Pusat Kepolisian*!

*Menunggu Jemputan*

Sama halnya dengan kata *pusing*, masih banyak kata Malaysia yang ejaan
dan
lafalnya sama dengan kata Indonesia, tetapi artinya jauh berbeda, dan
kadang-kadang bisa menimbulkan "malapetaka". Contoh lain yang juga sama
populernya dengan salah tafsir tentang kata *pusing* adalah salah tafsir
tentang kata *jemput*.

Bayangkanlah kejadian ini: serombongan tamu Indonesia berkerumun di
lobi hotel, menunggu datangnya mobil jemputan tuan rumah yang mengundang
mereka. Sementara itu, pihak tuan rumah Malaysia menunggu-nunggu
kedatangan
tamunya di tempat jamuan makan. Setelah dua jam berlalu, rombongan
Indonesiaakhirnya masuk kembali ke kamar masing-masing sambil
menggerutu karena mobil
jemputan tidak kunjung datang. Hal yang sama terjadi di pihak
Malaysiakarena mengira orang
Indonesia tidak sopan karena telah mengabaikan undangan mereka. Kedua
belah
pihak sebenarnya tidak salah karena yang terjadi hanyalah salah tafsir
belaka. Dalam bahasa Malaysia, *menjemput* berarti *mengundang*; jadi,
si
tamu yang dijemput, yang disebut *tamu jemputan*, diharapkan datang
sendiri
ke tempat pertemuan!

*Gampang dan Haram, Kelamin dan Keluarga*

Dalam Kongres Internasional Bahasa Melayu, Agustus 1995, seorang peserta
Malaysia mengeluarkan unek-uneknya kepada pembicara dari Indonesia,
Prof.
Harimurti Kridalaksana. Ia mengatakan bahwa orang Indonesia sering
bersikap
tidak sopan, yaitu dengan seenaknya menyebut *gampang* kepada orang
Malaysia.
Karena tidak menguraikan lebih lanjut mengapa dia tersinggung mendengar
kata
itu, saya dan beberapa orang Indonesia lainnya terheran-heran. Setelah
bertanya ke kiri dan ke kanan, ternyata kata *gampang* di Malaysia
berarti *
banci*, yang berkonotasi sangat buruk. Perasaan orang Malaysia mendengar
kata *gampang* mungkin dapat disamakan dengan perasaan orang
Indonesiamendengar istilah
*pendatang haram* yang sekarang telah diganti menjadi *pendatang gelap*
atau
*pendatang tak berizin*. Sementara itu, kata *banci* bukannya tidak ada
dalam bahasa Malaysia, tetapi mempunyai makna lain, yaitu* *makna*
sensus*dalam bahasa kita.

Contoh kekeliruan lain yang bisa membuat orang Indonesia salah tingkah,
bahkan berang, adalah bila ditanyai, *"Anda membawa kelamin?"* Bayangkan
jika seorang wanita mendapat pertanyaan demikian dari rekan prianya,
atau
sebaliknya. Tetapi, Anda tidak perlu tersinggung karena rekan Malaysia
Anda
rupanya hanya ingin tahu apakah Anda datang bersama keluarga. Pertanyaan
yang wajar bagi sesama orang Timur, bukan?

*Air Batu dan Air Kosong*

Di hari yang panas terik, tentu nikmat bila mereguk minuman dingin,
sekurang-kurangnya air es. Tetapi, jangan terkejut jika untuk Anda
dipesankan *air batu*, karena inilah memang sebutan Malaysia untuk air
es.
Memang, ada kalanya air batu disebut juga *air ais*. Bagaimana kalau
Anda
minta air bening biasa? Tahan dulu tawa Anda, karena untuk Anda akan
dipesankan *air kosong*! Memang airnya kosong, artinya tidak dicampur
sirup
atau apa pun. Teh tawar pun mereka sebut *teh kosong* atau *teh O*;
huruf O
di sini berarti *only*.

Jangan pula heran jika seseorang yang menggigil kedinginan malah
mengatakan, "Sejuknya udara pegunungan ini". *Sejuk* dalam bahasa
Malaysiaadalah
*dingin* dalam bahasa Indonesia, dan sebaliknya. Jadi, air batu yang
disuguhkan kepada Anda itu adalah minuman sejuk, bukan minuman dingin!

*Anda Tiba Semalam?*

Biasanya, ketika bertemu pada hari pertama seminar atau pertemuan
lainnya di
Malaysia, kita akan ditanyai, "Bila tiba? Semalam?" Saya sudah mengerti
bahwa *bila* berarti *kapan*, dan karena saya tiba kemarin pagi, saya
pun
menjawab, "Bukan semalam, tapi kemarin pagi". Teman Malaysia saya
tertegun,
lalu bertanya lagi, *"You mean yesterday?"* Dan saya terpaksa menjawab,
*"Yes,
I arrived yesterday morning".* Teman yang orang Malaysia itu berkata
lagi,
"Jadi, Anda tiba semalam". Rupanya, *semalam* yang dalam bahasa
Indonesia
berarti *tadi malam*, bagi orang Malaysia berarti *kemarin*, tidak
menjadi
soal apakah kemarin pagi, siang, atau malam. Cara mengatakan *tadi
malam*adalah
*malam semalam*! Apakah *kemarin pagi* menjadi *pagi semalam*, tidak
sempat
saya persoalkan.

*Teka-Teki Kata*

Masih ada sejumlah kata lain yang juga baru bisa dipahami jika kita
sudah
pernah kontak dengan kata itu. Di Indonesia beredar lelucon tentang
istilah
Malaysia "Rumah Sakit Korban Lelaki" untuk istilah Indonesia "Rumah
Sakit
Bersalin". Ini sebetulnya ulah orang iseng saja. Orang Malaysia tidak
mengenal kata *rumah sakit*; mereka menyebut tempat itu *hospital*.
Mereka
memang banyak menyerap kata Inggris dengan menuliskannya sesuai dengan
lafalnya. Karena itulah ada kata *teksi* untuk *taxi*, *ejen* untuk
*agent*,
*enjin* untuk *engine*, *fesyen* untuk *fashion*, dan seterusnya.

Sekarang, dapatkah Anda menebak arti kata *pemaipan* dan *penaipan*?
Ingat rumusnya, lafal kata Inggris. Masih belum bisa menebaknya?
Kembalikan
dahulu kata turunan ini ke kata asalnya, yaitu *paip* dan *taip* ....
Mudah-mudahan Anda sudah berhasil menebaknya. Ya, *pemaipan* berasal
dari
kata *paip* atau *pipe* dalam bahasa Inggris, dan *penaipan* dari kata
*taip
* atau *type*. Jadi, *pemaipan* adalah *pemipaan* atau *pipanisasi*
dalam
bahasa Indonesia, dan *penaipan* tidak lain adalah *pengetikan*!

Masih ada dua kata Malaysia lain yang pernah memusingkan saya. Ketika
saya ajukan teka-teki mengenai arti kata *setia-usaha* dan *bomba*
kepada
beberapa orang Indonesia, terkaan yang paling sering muncul adalah:
pasti
ada kaitannya dengan koperasi dan bom. Padahal, *setia-usaha* adalah
padanan
*sekretaris*, sedangkan *bomba* padanan *pemadam kebakaran*! Sementara
itu,*kereta bomba
* bukanlah kereta api, melainkan *mobil pemadam kebakaran*.

*Penutup*

Memang keterlaluan jika dua orang Melayu, seorang Malaysia dan seorang
Indonesia, bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Tetapi, itulah salah
satu
jalan keluar terbaik jika terjadi kesalahpahaman antara dua orang yang
berasal dari dua negara berjiran itu. *Serupa tapi tak sama* -- ungkapan
paling tepat untuk membandingkan kedua bahasa serumpun itu.

*Berita Buku, Desember 1996

Monday, August 07, 2006

Launching Antologi Puisi 'Empati Jogja'

Catat ya ...Acara ini :) Ajak temen2...keluarga, sahabat2 & semuanya GRATISSS!!!!

Launching Buku 'Anthology Empati Jogja' dari Komunitas Puisi FLP
pada tgl 12 Agustus 2006 di Gedung S Lt. 8 Universitas Trisakti Grogol Jakarta Barat Pk. 13.00 - 15.20 WIB bersama :

- DR. Hidayat Nur Wahid*
- Adhiyaksa Dault*
- Dedi Mizwar
- Anneke Putri
- Ahmadun Yosie Herfanda
- Abdurrahman Faiz (Penyair cilik)
- Pepeng Jari-jari
- Helvi Tiana Rossa

Diselingi Pemutaran Film Dari Netpac Asian Film Festival yang berasal dari karya cineas2 negri ini untuk Jogja

Silahkan beli bukunya ..dimana semua keuntungan bersihnya akan disumbangkan untuk korban gempa Jogjakarta khususnya Anak-anak Yatim dan Piatu Jogjakarta. Harganya cuma Rp 15.000,- :)

Menikmati karya sambil beramal...hmm..asyiknya...Ayo jangan ketinggalan ya!

salam hangat

Epri Abdurrahman (Moderator Komunitas Puisi FLP)
======================================================

Kakiku bergetar membacanya.." (sikrit)


"duuhh...tercekat sekali bacanya...sungguh memilukan :(( terharu banget..." (ti2n)


"Mataku basah nih waktu baca...(anpratomo)


"Astaghfirullah, aku merinding bacanya ;( (Fahrul)


"Subhanallohu...Maaf saya enggak sanggup baca sampai habis ...mata sudah mulai menggenang, telinga berdenging, hati teriris perih ...hasbunallohu wa ni'mal wakiilu, ni'mal maulaa wa n'man nashiiru..." (Andhiny)



Itulah komentar-komentar mereka setelah membaca salah satu puisi didalam buku Anthology Empati Jogja berjudul DINGIN MBOK...LAPAR (hal 15-red) ---> bisa diliat langsung isi puisi dan beberapa komentar tsb di http://wirdayanti.multiply.com/journal/item/26


Baris-baris kata yang merekam hari-hari awal setelah gempa 5,9 Skala Richter menerpa Jogjakarta dan sekitarnya. Saat anak-anak menggigil kedinginan dalam kelaparan. Dimalam hari, di sebuah tenda yang tampyas terkena air hujan, terasa begitu 'menyayat' perasaan kita.


Menyimak lembar demi lembar kumpulan karya para penulis puisi FLP (Forum Lingkar Pena) di buku Antology Empati Jogja yang baru terbit ini seakan mengajak kita untuk lebih menekuri perjalanan tapak-tapak kehidupan kita sebagai manusia dalam untaian indah para penyair-penyair muda berbakat dinegri ini.


Selain itu tak kurang seorang Abdurrahman Faiz yang dikenal sebagai penyair cilik serta Juara 1 lomba menulis surat untuk Presiden Tingkat Nasional ini, juga ikut menyumbangkan karyanya (hal 13-red) dalam Buku yang sejak awal diniatkan seluruh keuntungan bersihnya untuk disumbangkan kepada korban gempa diJogjakarta.


Tercatat pula nama penyair senior seperti Ahmadun Yosie Herfanda (Peraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS - sekarang redaktur sastra harian Republika-red) serta Udo. Z. Karzi ( Ketua Penelitian & Pengembangan Dewan Kesenian Lampung-Penulis dan jurnalis-red) yang tak mau ketinggalan menyumbangkan karyanya di buku ini.


Yang patut dicatat juga, ada pula puisi yang ditulis dengan gaya yang ringan dalam buku ini sehingga mampu membuat kita tersenyum saat membacanya (di hal 17-red). Dimana penulisnya mengajak para korban bergembira dan bersorak bersama dalam gempita PIALA DUNIA ditengah suasana bencana (toh korban gempa juga manusia begitu katanya). :)


Berbagi dan berempati memang adalah 2 kata yang sangat mahal di Dunia modern saat ini, sumbangsih karya para penulis puisi yang juga Ingin menunjukkan rasa kepeduliannya kepada saudara-saudara kita Yang tengah terkena ujian selayaknya kita dukung, karena dengan ide Ini selain kita bisa menikmati karya-karya indah para penyair, kita juga Sekaligus bisa beramal untuk saudara-saudara kita di Jogjakarta dan Harganyapun relatif murah terjangkau ( cuma Rp. 15.000,- ) Jadi selamat menikmati puisi sekaligus beramal.



Salam hangat.
Komunitas Puisi FLP



PS : Sementara Buku dapat diperoleh di Portalinfaq.org
Jl. Radio IV No. 8A Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Telp : (021) 7278 - 6073 Fax : (021) 7278 - 6074

Hasil seleksi antologi Puisi 'Empati Jogja'

Assalamu 'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah setelah cukup panjang proses seleksi dari banyaknya puisi-puisi yang masuk untuk Proyek Amal Buku puisi ( Antologi Empati Jogja ) kerjasama Komunitas Puisi FLP ( Forum Lingkar Pena ) dan Portalinfaq.org dimana keuntungan dari penjualan buku ini akan disumbangkan bagi korban gempa di Di Jogjakarta. Maka dengan ini kami mengumumkan karya-karya yang terpilih :

1. Yogyakarta ( Shafitri Diniarti )
2. Gempa Jogja ( Udo Z. Kardi )
3. Derai Luka ( Syifa Aulia )
4. Dawai kematian ( Dino F. Umahuk )
5. Tanda Seru ( Yadi Asbar )
6. Eprilog Puing ( Emil WB )
7. Alunan Nada Senja ( Margodilaksono )
8. Kepada Tubuh-tubuh Bisu ( Siti Fatimah )
9. Sisa Cinta ( Achi TM )
10. Aubade ( Indrian Koto )
11. Sabtu Pagi 27 Mei 2006 #1 ( anton.mondro )
12. Bagaimana Kau Mencatat Bencana ( Abdurrahman Faiz )
13. Dingin Mbok Lapar ( Epri. AR )
14. Berhenti Nonton TV & Bilang Kasihan
Saatnya berbagi kebahagiaan ( Noviana Kusumawardani )
15. Kita Harus Bicara ( Inna Astriana Nurvita )
16. Inikah ( Johannes Sugianto )
17. Detik Setelah itu ( Nera Ardianti )
18. Ketika Duka Terpampang ( Wahyu Dwinoto )
19. Biarkan ( Mardiana )
20. Awalan ( Dian Hartati )
21. Pesan Ajal ( Nursalam AR )
22. Matahari Padam di Kota Jogja ( Ahmadun Yosi Herfanda )

Selamat kepada yang terpilih karyanya dan diharapkan segera mengirimkan biodata singkat jati diri penulis dan diemail ke perangkai_kata@yahoo.com. Segera setelah terbit setiap penulis akan dikirimi bukunya dan diundang pada acara Launching Buku ini, karenanya diharapkan menulis alamat sejelas-jelasnya terutama yang berada di luar kota Jakarta dan di luar negri.

Komunitas Puisi FLP & Portalinfaq.org mengucapkan banyak terimakasih kepada semua penulis puisi yang telah mengirim karyanya kepada kami. InsyaAlloh semua karya yang diniatkan untuk kebaikan akan berbuah kebaikan juga. Semoga menjadi amal sholeh yang penuh keberkahan. Dan tetaplah semangat dalam berkarya.

Salam hangat

Epri Abdurrahman

Sumber: http://epriabdurrahman.multiply.com

Cerpen "Catatan Harian Gembel Cilik"

Alhamdulillah, pada bulan Mei 2006, salah satu cerpen saya berjudul "Catatan Harian Gembel Cilik" berhasil lolos seleksi bersama 9 cerpen terpilih lainnya dalam kumpulan cerpen "Orang-Orang Pinggiran" yang dieditori Rosidi Eros (editor lepas dari Jawa Tengah) dan akan dipublikasikan pada pertengahan 2006.

Berikut catatan pengumumannya dan isi lengkap cerpen tersebut agar Anda dapat memaknai sebuah keberhasilan (setidaknya buat saya:-).

Selamat memaknai!

================================

Pengumuman Penerbitan Kumcer Orang-orang Pinggiran

Sehubungan dengan rencana penerbitan Kumcer Orang-orang Pinggiran (marjinal), setelah saya konsultasikan dengan Cerpenis S. Prasetyo Utomo (Semarang, Jawa Tengah), penulis buku “Bidadari Meniti Pelangi” yang diterbitkan KOMPAS, akhirnya terpilih naskah-naskah sebagai berikut:

No. Nama Judul
1 Nera Andiyanti The Regala 204B
2 Indarpati Kurir
3 Anita Kapal-kapal Kertas
4 Ragdi F. Daye Air Dingin
5 Nursalam AR Catatan Harian Gembel Cilik
6 Abdullah Khusairi Entah Leher Siapa Lagi
7 Udo Z. Karzi Di Sebuah Persimpangan
8 Sunlie Thomas Alexander Dapur
9 Fitri Mayani Ibu
10 Joko Nugroho Dara Jelita Dan Kedua Mata yang Bersamudera

Selain 10 naskah terpilih di atas, masih ada beberapa naskah yang masih saya konsultasikan kelayakannya.

Dan untuk mempercepat proses penerbitan, mohon bantuan dari kawan-kawan yang naskahnya terpilih untuk mengirimkan sekali lagi curriculum vitae (biodata diri) secara lengkap. Mungkin bisa meniru seperti yang ditulis Bang Sunlei:
BIODATA PENULIS
SUNLIE THOMAS ALEXANDER lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Sempat studi di Jurusan Disain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Menulis cerpen, sesekali puisi dan esai yang dipublikasikan di KORAN TEMPO, HORISON, JAWA POS, SUARA MERDEKA, HAI, SRIWIJAYA POST, SUMATERA EKSPRES, PADANG EKSPRES, SIJORI POS, RADAR BANJARMASIN, PIKIRAN RAKYAT, LAMPUNG POST, RIAU POS, BANGKA POS, RAKYAT MERDEKA, BERNAS, dan JURNAL CERPEN INDONESIA. Saat ini berkelana di sejumlah kota dan desa di Pulau Jawa sembari terus bergiat di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.
Demikian, terima kasih atas kerjasamanya. Terima kasih juga kepada kawan-kawan lain yang telah berpartisipasi.

Ttd.


Rosidi

==============

Catatan Harian Gembel Cilik
Oleh: Nursalam AR

KRL Jabotabek merapat di Stasiun Kota. Ratusan penumpang berhamburan turun dari delapan gerbong yang padat berjejal. Suasana pagi memaksa langkah-langkah cepat mereka menuju tempat kerja. Apalagi tadi kereta sempat terlambat satu jam. Suatu hal biasa di tengah semrawutnya manajemen PT KA Indonesia. Aku sudah hapal betul hal itu. Sebagai gembel, kunikmati saja pemandangan pagi Jakarta yang selalu tergesa-gesa. Siapa bilang jadi orang kantoran enak? Mendingan jadi gembel kayak aku, jam delapan begini masih tidur melungker berselimut sarung di peron Stasiun Kota yang bergaya arsitektur Belanda ini. Aku menguap. Kupejamkan kembali mata.
“Hey! Hati-hati dong!” Jeritan nyaring khas wanita memaksaku terjaga. Seorang wanita berlipstik tebal dan berwajah cantik meringis memegangi bahunya. Seorang pemuda berkemeja rapi di belakangnya tampak meminta maaf berkali-kali. Lantas tanpa menunggu balas, lekas melaju. Gerutuan boss di kantor tentu lebih menyeramkannya ketimbang jerit kesal wanita yang tak sengaja terdorong karena lelet melangkah di keramaian peron.
Atau dia copet?
Ah, aku tak kenal dia. Memang banyak sih teman-teman pencopet yang berpakaian rapih, jauh dari gambaran seorang pencopet yang berangasan, kumuh dan bermata liar. Kata Bang Tino, boss copet di stasiun ini, copet itu ada spesialisasinya. Jadi ada yang kumal, tapi ada juga yang rapih berkemeja seperti orang kantoran. Tidak jarang bahkan mereka dapat jodoh perempuan kantoran. Entahlah, apa alasannya kepada istrinya kelak tentang apa pekerjaannya? Barangkali setiap pagi pamit dibekali kecup mesra di dahi lantas naik kereta menggerayangi mangsa? Ah, sudahlah, itu bukan urusanku!
Tapi, asmara!
Kayak apa ya pacaran itu? Enak kali ya? Sering saat aku dinas terutama siang dam sore hari melihat pasangan muda-mudi bahkan pasangan selingkuh tampak mesra di atas kereta. Tak segan-segan melingkarkan tangan di pinggang atau mengecup pipi di tengah keramaian. Memang sih tidak ada yang protes. Penumpang lain paling sekedar melotot tanpa berkomentar; atau buang muka atau terus baca koran sambil diam-diam mengintip menikmati. Aku yang berdinas sebagai penyapu kereta enak-enak saja melihatnya. Cewek-cewek itu sexy sih. Kaos mereka menggantung, memperlihatkan pusar dan kulit perut mulus atau belahan dada rendah hingga aku yang sambil berjongkok menyapu kerap mencuri-curi lihat apa isinya. Sepertinya beda dengan punya Siti dan gelandangan perempuan sebayaku lainnya yang sering kuintip di WC stasiun.
“Yang begitu dosa, Jon,” demikian selalu tegur Mas Awang, penjaga WC umum dan mushola stasiun. “Coba kalau RUU APP diberlakukan, pasti mereka kena sanksi berat!”
“APP itu Awewe Perek-Perek ya, Wang?” sergah Kimong, si tukang koran.
Mas Awang mendengus. Ia nampaknya tak suka pertanyaan itu. Dia tahu Kimong hanya mengejeknya. Kimong selain jualan koran juga berjualan VCD porno. Bahkan di kamar kostnya di Mangga Dua, kata Yoyon, ada berkardus-kardus VCD porno. Yoyon sering diajak nonton. Aku juga pernah diajak, tapi Emak melarang. Ya, aku masih punya Emak. Sama-sama penyapu kereta.
“Kamu nggak boleh nonton begituan, Jon. ‘Ntar bikin ngeres pikiran kamu. Emang kamu punya duit apa buat maen ke Bongkaran ?” ujar Emak suatu ketika. Saat itu kami sedang menghitung hasil kerja seharian di pojok stasiun.
Ya, aku bukan orang kaya. Gembel malah. Belum dewasa pula. Usiaku masih sembilan tahun. Tapi kata Kimong tampangku seperti anak dua belas tahun. Mukaku boros, katanya. Aku sebal dibilang begitu. Kimong sendiri jauh lebih boros wajahnya daripada aku. Dengan punggung bungkuknya—kata Bang Tino karena terlalu sering onani—dan wajah hitam jerawatan, orang lebih percaya umurnya dua puluh tahun daripada enam belasan. Nah, lebih jauh kan selisihnya?
Aku tersenyum mengingat reaksi wajah Kimong yang bersungut-sungut saat aku kick balik demikian.
“Heh! Nyengir-nyengir sendirian lo! Bangun! Kerja lo!”
Aku menatap sewot. Hm, panjang umur sekali dia! Baru ada di pikiran, eh, sudah nongol di hadapan!
Tapi Kimong orangnya baik hati. Kalau penjualan VCD-nya laku keras, dia sering traktir aku makan di restoran cepat saji di lingkungan stasiun. Ya, restoran cepat saji yang aku sering berlama-lama duduk di depannya. Sekedar mengagumi makanan yang tersaji dan mengeja nama-nama menunya yang asing. French fries, fried chicken, root beer…
“Yee…malah bengong lagi! Nih makan!” Tuh, kan Kimong emang baik. Diangsurkannya sebungkus nasi uduk dengan tempe, sambal dan irisan-irisan telur. Irisan yang tipis sekali. Aku menyambarnya dengan gempita. Tanpa cuci tangan.
“Minumnya?”
“Tuh!” Telunjuk Kimong mengarah pada sesuatu di sampingku. Aku menoleh. Sialan! Sekantong es teh plastik lengkap dengan sedotan dirubungi semut. Mungkin semalam ada penumpang kereta yang membuangnya. Jika malam, peron ini beralih jadi warung.
Aku cemberut. Kimong tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-terbatuk.
“Lo gembel kayak raja aja, serba dilayanin. Minta aja sama Mas Awang. Dia lagi pesen teh manis tuh. ”
“Nggak enak minta mulu tiap hari sama dia. Dia kan baek banget.”
“Emang lo punya duit?”
Aku menggeleng.
Kimong tersenyum. “Nih, gua kasih. Tiga puluh. Sekalian bilangin sama mak lo. Entar malam gue tunggu di kos-kosan gue. Bilangin ye, awas kalo kagak!”
Kimong bergegas pergi. Ada dua cewek celingukan di depan kios korannya, hendak membeli koran tampaknya. Ada dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan lecek di tanganku. Aku tak tahu persis apa hubungan Emak dengan Kimong. Emak tidak cantik, tapi bodinya montok, kata Kimong. Jarak umur mereka terpaut sepuluh tahun. Tapi aku lihat Emak sering begitu penurut ketika Kimong memberinya isyarat-isyarat tertentu. Dan menuju WC stasiun bergantian. Belasan menit kemudian mereka baru keluar. Biasanya Kimong keluar dengan wajah sumringah dan merapikan celana. Sementara Emak tampak mengusap-usap mulutnya seraya berkali-kali meludah. Atau kadang-kadang justru Kimong yang mengelap mulut sementara Emak merapikan bagian atas bajunya.
Jerit kereta jurusan Serpong di lintasan paling ujung menyadarkanku. Lekas-lekas kuhabiskan sarapan gratisku. Aku punya acara rutin sebelum berangkat kerja. Ya, menulis catatan harian pada buku notes yang selalu setia kuhimpit di bawah tikar lusuhku. Segala renungan dan apa yang kulihat kucatat di situ. Memang aneh buat orang lain. Emak, Bang Tino apalagi Kimong. Yang mengapresiasi cuma satu orang: Mas Awang. Dia bilang aku gembel intelek. Apapun itu maksudnya, rasanya julukan itu cukup keren buatku.
***
“Aqua…aqua! Kopi…!”
“Koran…koran…!”
“Orang pinggiran...o ea eo...o ea eo..Ada di trotoar...o ea eo...o ea eo. Ada di bis kota...o ea eo...o ea eo…Ada di pabrik-pabrik...o ea eo...o ea e.. Orang pinggiran...o ea eo...o ea eo…..Di terik mentari...o ea eo...o ea eo.…Di jalan becek...o ea eo...o ea eo…..Menyanyi dan menari...o ea eo...o ea eo...”
Meriah sekali kereta jam satu siang ke arah Bogor ini. Tukang asongan berseliweran dari gerbong ke gerbong. Full music pula. Lima orang pemuda tanggung masing-masing menggebrak dengan lagu “Orang Pinggiran”-nya Iwan Fals. Aku paling senang melihat band gerbong ini beraksi. Terampil sekali mereka menjaga keseimbangan antara berdiri di tengah gerbong yang laju keretanya terkadang oleng menghantam batu-batu iseng yang ditaruh orang di lintasan rel besi, dan menjaga kontrol pukulan drum atau petikan gitar. Belum lagi ditambah angin kencang yang kadang berhembus dari pintu-pintu gerbong yang memang tak pernah tertutup di kedua sisi kereta, dan dari jendela-jendela yang retakannya menjalar.
Anjir ! Angin berhembus kencang seiring laju KRL Pakuan Ekspress di sebelah kereta ini. Debu tebal di lantai kereta berhamburan menggulung, menghajar mukaku. Cuih! Terpaksa kuludahkan debu yang memaksa masuk mulutku. Cairan kental kehijauan meluncur cepat dari kerongkongan.
Plak! Sekonyong-konyong kepalaku bergoyang hebat. Apakah kereta ini menubruk kereta lain atau ada yang iseng menarik rem darurat? Yang jelas mendadak pening menyergapku. Dalam keterkejutan dan nyeri, aku baru menyadari sepasang sepatu lars tentara yang tadi menyepak kepalaku. Ternyata ludahku salah mendarat!
“Maaf, Pak,” aku mengatupkan tangan, tetap dalam posisi dinasku: berjongkok. Pemilik sepatu lars itu menatap tajam. Tampaknya ia belum puas.
“Sembarangan kamu. Kotor ini sepatuku!”
“Nggak sengaja, Pak,” ujarku, dengan suara yang kuupayakan lirih. Agar lebih meyakinkan, aku bersujud di sepatunya. Selintas kulihat pandangan jijik penumpang lain. Ah, biarlah! Toh, mereka juga diam saja melihat kutu kecil ini teraniaya!
“Karcis-karcis…..” kondektur kereta mengedarkan tangannya, menjemput tiket-tiket di antara penumpang. Kereta ke arah Bogor menjelang siang ini memang relatif lebih lengang dibandingkan ke arah sebaliknya, Jakarta.
“Abo! ” seru seorang pemuda yang berdiri di sampingku. Ia membawa tas ransel yang dikedepankan di dadanya. Mungkin ia mahasiswa. Kondektur menatapnya sekilas, menerka usia dan kejujuran jawabannya. Lantas beralih kepada seorang bapak-bapak yang terkantuk-kantuk di sebelah pemuda itu. Tergopoh-gopoh bapak itu mengambil selembar ribuan dari kantongnya. Lembar itu pun berpindah tempat ke kantong kondektur yang tampak gembung.
Tangan kondektur mencolek si pemilik sepatu lars yang berdiri pongah di depanku.“Anggota! ” Tegas suaranya.”Nggak lihat?!” tanyanya dengan mendelik. Kondektur muda berjanggut tipis itu tergugup. “Maaf, Pak. Gak keliatan.”
Si tentara mendengus. Ia kembali beralih padaku yang masih terpaku, berjongkok sambil memegang sapu ijuk. Aku memutar akal bagaimana keluar dari situasi tak mengenakkan begini. Tak cukupkah kepalaku ini merunduk hina di kakinya?
“Eh! Udah sana, jalan lagi. Pindah ke gerbong sana!” Si kondektur muda menepuk bahuku, sambil mengusirku. Entah apakah ia paham kondisiku atau aku jadi pelampiasan kekesalannya disemprot si Tentara. Aku beringsut cepat, berdiri dan setengah berlari menuju gerbong sebelah. Aku tatap si Kondektur muda. Aku ucapkan terima kasih padanya. Dalam hati.
Setengah melompati sambungan antargerbong yang bergoyang-goyang hebat yang salah-salah kaki bisa terjeblos ke bawah, aku menubruk Kimong.
“Brengsek lu!” Ia mengusap-usap jidatnya yang tersundul kepalaku. Ia memunguti beberapa korannya yang terserak di lantai.
“Maaf, Mong, kok naek ke atas juga? Kios siapa yang jaga?” ujarku, coba mengalihkan kemarahannya.
“Ada Sidin, anak baru yang baru datang dari kampung. Biar aja, gue lagi ngebet nih,” jawabnya merengut. “Emak lo mana?”
“Emang nggak ketemu?”
“Ngapain juga gue tanya kalo udah ketemu!” Ia bergeser merapat ke sebelahku. Gerobak kecil penjual minuman ringan lewat, meluncur di atas empat roda besinya. Berturut-turut di belakangnya tukang telur puyuh, penjual buku tulis dan abang-abang tukang boneka.
“Kemana dia?”
“Nggak tau. Bukannya nanti malem?”
Kimong mendelik. “Itu urusan gue. Awas ye, kalo kagak, balikin lagi duit gue!” Kimong melompat ke gerbong sebelah. Punggung bungkuknya bergoyang-goyang seperti punuk unta yang tengah berjalan.
Ah, Emak, kemana engkau? Dari semalam aku memang tidak melihatnya. Meski kami bersama, kami tidur terpisah, sesuai urusan masing-masing. Sekali dua Emak juga tidur menemaniku. Itu saat-saat terindah. Bagaimanapun, aku masih seorang anak yang merindu belaian ibu. Biar gembel, aku juga manusia.
***
Di Stasiun Duren-Kalibata. Aku duduk mengaso di bangku besi peron. Angin semilir dari sela-sela rumpun bambu menelusup menyegarkan. Ini salah satu stasiun favoritku untuk sekedar santai. Masih banyak pepohonan rindang di kiri kanan stasiun. Tak heran perumahan wakil rakyat pun bertempat tak jauh dari stasiun. Dan taman makam pahlawan hanya berjarak kurang dari satu kilo dari sini.
Tanganku meraba mencari batang rokok di saku celana pendekku. Sejenak aku lihat bekas luka buatan di paha. Pintar sekali Bang Tino membuatnya. Katanya, biar penumpang kasihan dan duitku makin banyak katanya. Dengan tambahan bau-bauan tertentu, jadilah luka bakar yang mengerikan. Sekaligus menjijikkan.
Asap rokok mengepul ke udara. Nikmat sekali dunia meski hanya sebatang rokok di tangan. Aku raba kantong bekas bungkus permen sebagai tempat sedekah. Ah, masih kempes. Sejak kenaikan BBM, rasanya penumpang makin pelit mengeluarkan recehan mereka. Pesaingku pun makin banyak saja.
Kereta arah Jakarta merapat. Sesosok tubuh kurus yang amat kukenal turun. Celingukan sebentar, lalu menarikku ke atas kereta. Aku menurut saja. Ia selama ini sangat baik padaku.
“Emak kamu, Jon,” jawabnya pendek ketika kutanya ada apa.
Pandanganku menerawang. Ada apa dengan Emak? Kulirik Mas Awang. Pandangannya lurus ke luar jendela. Tampak ia gelisah. Kata Emak, Mas Awang mirip sekali almarhum bapak. Aku senang sekali mengetahuinya karena Mas Awang baik. Berarti bapakku orang baik juga. Demikian kesimpulanku. Aku sendiri tak pernah tahu bapakku seperti apa.
“Sayangnya tidak, Jono. Bapakmu kabur setelah menghamili Emak. Dia tidak mau menikahi Emak. Denger-denger dia jadi TKI di Malaysia. Moga saja dia mati dicambuk di sana!” Geram sekali nada suara Emak menceritakannya. Malam itu Stasiun Kota sepi. Hanya cekikik perempuan malam dan suara berisik botol pecah terdengar di kejauhan. Entah apakah dari luar stasiun atau di dalam. Karena di stasiun ini banyak penghuninya.
“Kenapa Emak ga kawin aja sama Mas Awang? Dia kan bujangan tua!” tanyaku polos. “Orangnya baik lagi.”
Kuingat waktu itu Emak terkekeh sambil memegangi pipinya yang memerah tersipu. Di usia kedua puluh enam, Emak tampak lebih tua didera derita. Sejak terpaksa melahirkan anak tanpa suami, Emak diusir keluarganya dari Kuningan, Jawa Barat. Ia terpaksa merantau ke Jakarta dan kerja apa saja demi hidup dan tempat tinggal karena saudara-saudaranya di Jakarta tidak mau terima perawan bunting tanpa suami. Aku yang masih bayi ditinggalnya di kampung.
Awalnya Emak bekerja jadi pembantu di rumah duda bule di daerah Kemang. Tapi karena bule itu kejam dan meminta dilayani tiap malam, Emak kabur. Hinggaplah ia sebagai pelayan di lapo tuak di terminal Kampung Rambutan. Namun karena sering digusur tramtib akhirnya warung itu tutup. Terpaksalah Emak menggelandang. Aku baru ikut Emak setahun ini karena Emak tidak enak hati menitipkan aku selama delapan tahun pada orang tuanya tanpa bisa kirim uang banyak tiap bulan. Melanjutkan sekolah pun menjadi terlalu mewah bagiku. Cukuplah aku sampai kelas tiga SD, begitu kata Emak.
“Masak sih lonte ga punya duit?!” begitu selalu sindir nenekku. Aku cuma ingat Emak sampai bersujud memohon ampun dan bersumpah bahwa ia tidak pernah melacur kendati bekerja di tempat-tempat yang berisiko demikian.
Hingga pada suatu malam. “Kepalang tanggung, Jon. Kita jujur dibilang maling ya sekalian aja jadi maling,” ujar Emak lirih sewaktu aku bertanya kepadanya tentang sebuah kejadian pada suatu malam.
Saat itu aku terbangun dari tidur yang bersisian dengan Emak. Suara-suara aneh mengusik telingaku. Kulihat Emak bersama Kimong. Di atas alas kardus. Aku pun pura-pura tidur pulas kendati Emak berkali-kali menoleh ke arahku di tengah-tengah desah-desah anehnya dan gerak liar Kimong. Aku hanya ingin menentramkan Emak bahwa aku anaknya tak tahu apa yang dilakukannya malam itu. Meski pada akhirnya aku tak tahan lagi untuk bertanya setelah beberapa minggu kemudian. Emak pun hanya bisa menjawab lirih seraya tampak berusaha menahan isak. Bila Kimong berhasrat, ia tak kenal waktu dan tempat. Anehnya, Emak selalu menurut saja.
“Mas Awang orang baik, Jon, terlalu suci buat Emak,” Emak akhirnya menjawab pertanyaanku untuk menjodohkannya dengan Mas Awang. Lenyaplah harapanku dapat figur ayah yang baik. Tapi sekali dua kulihat tatapan Emak yang agak lain kepada Mas Awang. Entah ada apa sebenarnya di hatinya.
“Kamu harus tabah ya, Jon. Allah suka orang yang tabah,” ujar Mas Awang seraya mengusap-usap bahuku. Ah, Allah! Nama yang jauh dariku. Aku jarang sholat kecuali jika Mas Awang menanyaiku. Maka sholatlah aku di musholla stasiun yang dijagainya. Tak enaklah aku pada orang yang telah berbaik hati menyilakanku dan Emak mandi gratis di WC yang ditungguinya dan kasih sarapan cuma-cuma setiap hari. Mendadak aku rindu belaian Ayah. Mas Awang adalah yang pantas buat Emak, bukan Kimong.
“Kamu jangan sering-sering minta makan sama Mas Awang. Nggak enak tau. Emak kan gak bisa balas apa-apa sama dia. Lagian uang tambahan Emak juga lumayan buat makan kita berdua!” wanti-wanti Emak selalu. Tapi aku tahu asal uang tambahan Emak itu.
Ya, Kimong!
Nama itu melekat di benakku.
Kereta merapat di Stasiun Kota. Aku menurut saja dibimbing Mas Awang setengah berlari menuju kantor keamanan stasiun. Sudah banyak orang berkerumun. Susah-payah aku dan Mas Awang menerobos. Beberapa penghuni stasiun yang mengenalku menatapku iba. Ada apa ini?
“Tumben ada pemeriksaan ketat, emangnya ada apa?”
“Biasalah, ada pejabat mau datang tiga hari lagi. Jadi ada pembersihan.”
Secuplik percakapan itu menghenyakkanku. Lalu apa hubungannya kedatangan pejabat itu dengan apa yang menimpa Emak?
Kutemukan jawabnya ketika akhirnya kami berhasil menembus kerumunan orang. Emak tertunduk, menutupi wajahnya. Punggungnya terguncang-guncang, menahan isak. Kimong hanya diam, merengut. Ia melirik sinis ke arah Emak.
Ya, Kimong! Darahku naik melihat tatapan sinisnya pada Emak.
Ternyata siang itu Kimong memaksa Emak ke WC seperti biasa. Malang, petugas keamanan kali ini bersikap di luar kebiasaan. Keduanya digerebek di WC. Dan dibawa ke kantor keamanan karena dianggap mengotori lingkungan stasiun. Entahlah padahal biasanya kami dan para keamanan itu hidup berdampingan seperti ikan dalam akuarium. Hanya jenis kami yang berbeda. Ah, segalanya jadi berbeda karena seorang pejabat yang justru tak akrab dengan kami.
***
Tiga hari kemudian. Aku merangsek masuk menerobos kerumunan pengunjung stasiun. Ada tontonan gratis. Sang Pejabat tampak di depan loket tiket, berbincang-bincang dengan petugas tiket yang terus-terusan pasang senyum yang disetel sedemikian otomatis. Sesekali Pejabat tertawa, dan perut bulatnya terguncang-guncang. Kata Mas Awang, pejabat itu hendak meninjau kondisi KRL Jabotabek apakah sudah cukup memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang demi menyambut globalisasi.
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan demikian. Baju baru di badanku terasa gatal. Tapi kata Mas Awang aku harus mengenakannya karena Pak Kepala Stasiun tidak menginginkan ada gembel berkeliaran pada hari ini. Ini hari istimewa. Stasiun pun tampak luar biasa resik dari biasanya. Jadi khusus hari ini aku berbaju kemeja rapih dan celana panjang pemberian Mas Awang. Entah bagaimana dengan Emak. Kabarnya sejak kemarin sore ia dikirim ke Kedoya untuk menjalani pendidikan ketrampilan untuk tidak jadi gelandangan lagi. Aku turut senang. Tapi kata Bang Tino, Kedoya itu adalah tempat penampungan pelacur.
Lalu, Kimong? Hari ini pun aku tidak melihat batang hidungnya. Padahal sejak tadi bilahan besi tipis yang sudah kulindas di rel kereta sudah kusiapkan di tangan. Aku ingin menebus rasa malu Emak yang dipermalukan di depan umum. Biar gembel, kami punya harga diri dan aku anak yang berbakti.
“Bagus-bagus, kerja Anda bagus, Pak,” puji Pejabat sambil menepuk-nepuk bahu pak Kepala Stasiun. Pak Kepala Stasiun tersenyum-senyum. Dalam penglihatanku kumis lebatnya tampak mengembang. Aku merangsek lagi, mungkin kudapati Kimong di antara pengunjung yang mengerumuni sang pejabat dan Pak Kepala Stasiun. Mataku nyalang mencari di sela-sela tubuh yang mengerumun.
Aduh! Desakan pengunjung yang ingin melihat Pejabat lebih dekat menerpaku yang tengah celingukan. Cling! Besi tipis lindasan yang telah kuasah itu berdenting di lantai, terlepas dari tangan. Aku lekas memungutnya. Sekonyong-konyong ada yang berteriak. Entah apa, tak jelas karena sekonyong-konyong kepalaku bergoncang hebat. Yang jelas aku tidak sedang dalam kereta. Hanya terdengar, “Tangkap teroris itu!” Siapa yang teroris?Setelah itu aku tak sadarkan diri.
Ketika siuman, kudapati diriku di balik sel dingin. Jeruji kokoh menghalang. Buku catatanku entah kemana. Aku mulai menuliskan catatan harianku dalam benak.
Ya, inilah catatan harianku yang kuceritakan padamu selepas mendekam dua malam di sel dingin berbau pesing. Mas Awang yang menebusku. Aku dan Emak pun kembali. Ya, kami kembali ke akuarium yang sama, sebagai ikan yang sama. Entah sampai kapan. Bertanyalah pada peluit kereta yang langsam. Jangan pada Pejabat yang kemarin lusa berkunjung. Konon dia langsung stroke mendadak sejak kejadian itu.
Jakarta, 29-30 Mei 2006.

Makna Kamus bagi Penerjemah

Cara Kamus dan Pengggunanya Menyikapi Perkembangan Pesat Bahasa Indonesia: pengamatan dan pengalaman pribadi

Oleh: Sofia Mansoor, disampaikan dalam Diskusi “Bahasa Slang dan Bahasa Gaul dalam Dinamika Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing”, Jakarta 4 Agustus 2005, dalam acara peluncuran kamus Indonesia-Inggris karya Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings



Pengantar
Saya rasa semua orang sependapat bahwa Bahasa Indonesia – selanjutnya ditulis BI – berkembang amat pesat dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Misalnya, banyak teman yang bermukim di mancanegara merasa kewalahan mengikuti perkembangan BI ini, khususnya ketika mereka membaca berbagai artikel dalam media online. Ketika kembali ke tanah air pun mereka sering mengeluhkan banyaknya kata “baru” yang tidak mereka pahami ketika membaca media cetak berbahasa Indonesia.

Salah satu profesi yang sangat berkepentingan dengan perkembangan BI yang pesat ini adalah penerjemah yang salah satu bahasanya BI. Di milis Bahtera, misalnya, yakni milis yang diperuntukkan bagi penerjemah yang salah satu bahasanya BI, jumlah posting yang masuk setiap hari mencapai 30-50 pucuk, kebanyakan menanyakan padanan kata atau istilah yang mereka jumpai dalam pekerjaan yang tengah mereka hadapi.

Salah satu topik yang mendadak naik daun di Bahtera beberapa pekan terakhir ini adalah munculnya Kamus Lengkap Indonesia-Inggris karya salah seorang Bahterawan, Alan M. Stevens, bersama rekannya A. Ed. Schmidgall-Tellings – untuk memudahkan, disebut kamus Alan dalam uraian ini – yang diluncurkan pada acara hari ini. Dipicu oleh pembicaraan mengenai kamus inilah kemudian mulai muncul diskusi tentang penggunaan sejumlah kamus lainnya.


Fungsi kamus
Pada umumnya, orang mengenal kamus sebagai buku yang berisi kumpulan kata beserta artinya, baik itu kamus ekabahasa seperti KBBI maupun kamus dwibahasa seperti kamus Alan ini. Padahal, kamus bukan hanya berisi kumpulan kata dan artinya, meskipun memang harus diakui bahwa itulah kandungan utamanya. Berikut ini dikemukakan beberapa kegunaan lain dari kamus beserta sedikit contoh dan uraiannya.

a. Mencari arti kata
Banyak penerjemah yang mencari arti kata dengan langsung membuka kamus dwibahasa, padahal, berdasarkan pengalaman, cara ini kurang ampuh. Kita perlu mengetahui bahwa kamus dwibahasa pada umumnya adalah kamus umum sehingga isinya pun kata-kata “umum.” Jika kita, misalnya, ingin mencari arti kata stem cells, kita harus mencari artinya dalam kamus ekabahasa Inggris, bahkan mungkin kamus khusus yang berisi istilah dalam bidang yang bersangkutan, dalam hal ini kamus kedokteran atau biologi.

Mencari kata dalam kamus ekabahasa akan semakin terasa manfaatnya di saat kata yang dicari artinya itu memiliki banyak arti, misalnya kata expose, yang berbeda-beda maknanya dalam bidang fotografi dan bidang kedokteran, misalnya. Makna mana yang harus diambil? Kelengkapan makna dan penjelasannya ini terdapat dalam kamus ekabahasa dalam bahasa yang bersangkutan. Konteks akan sangat berperan dalam menentukan makna mana yang paling tepat. Mencarinya dalam kamus dwibahasa sering kali menghasilkan padanan yang keliru.

b. Memeriksa ejaan
Pada saat menulis, menyunting, atau menerjemahkan, saya sering harus membuka kamus, sekadar untuk memeriksa atau memastikan ejaan yang benar. Kata yang paling sering saya periksa ejannya antara lain adalah kata miscellaneous dan privilege. Saya sering sekali salah menuliskannya. Selain itu, mungkin karena sudah lebih dari 25 tahun bergelut dengan kata, saya sering cukup jeli ketika membaca kata yang ditulis dengan ejaan yang salah, misalnya dalam kain rentang atau spanduk di jalanan. Contoh yang paling “gres” adalah kata ALUMNY yang terpampang dalam iklan di salah satu harian Bandung. Yang menyedihkan, kata itu muncul dalam iklan yang berasal dari alma mater saya!

c. Memeriksa kata baku
Banyak juga penulis atau penerjemah yang bingung mengenai ejaan kata yang baku; apakah beaya atau biaya, nasihat atau nasehat, sekedar atau sekadar, kadaluarsa atau kadaluwarsa (ternyata menurut KBBI yang baku adalah kedaluwarsa). KBBI memang bisa dijadikan rujukan untuk memeriksa kebakuan suatu kata.

d. Mencari padanan kata
Beberapa pekan yang lalu, di salah satu forum online untuk para penerjemah, Proz.com, muncul pertanyaan manakah padanan yang tepat untuk kata flicker; apakah kerlip, berkelip, atau kelap-kelip. Di sini, si penanya sudah memahami makna kata flicker ini, namun masih ragu mengenai padanannya. Sebetulnya, jika dia memiliki KBBI, misalnya, dengan mudah dia dapat memeriksanya dalam entri kelip dan kerlip, yang memberikan beberapa kata yang dapat digunakannya, yakni berkelip, kelap-kelip, dan bekerlip.

e. Mencari kepanjangan singkatan dan akronim
Mungkin belum banyak yang tahu bahwa banyak juga kamus yang memuat kepanjangan singkatan atau akronim. Dalam KBBI, misalnya, kita bisa mengetahui kepanjangan BPKPN dan Babinkumnas, dua contoh singkatan dan akronim yang sering ditanyakan dalam milis Bahtera.

f. Mencari ejaan nama negara
Dalam suatu kesempatan, saya harus “menerjemahkan” nama sejumlah negara. Sebagai rujukan, saya menggunakan KBBI, dan tertegun ketika mendapati bahwa ejaan nama salah satu negara sempalan Chekoslowakia adalah… Cheska! Tadinya saya mengira nama negara ini Ceko!

Masih ada beberapa kegunaan lain kamus, misalnya arti marka ralat, kata dan ungkapan dalam bahasa daerah dan bahasa asing, daftar kesetaraan ukuran, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Perkembangan Bahasa Indonesia
a. Kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan

Dari pekerjaan saya sehari-hari sebagai penerjemah, dan dari obrolan dengan teman-teman seprofesi, saya mendapatkan kesan bahwa kamus ekabahasa (KBBI dan sejenisnya) maupun dwibahasa (Inggris-Indonesia, misalnya), termasuk para penggunanya, terengah-engah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan bahasa percakapan (baca: bahasa gaul dan bahasa slang) yang seakan berlari sekencang Carl Lewis, sementara kamus dan para pengguna BI ibaratnya berjalan selambat keong. Berikut ini saya kemukakan beberapa contohnya.

Kata surrogate mother sudah muncul sekitar dua dasawarsa yang lalu. Apakah BI sudah memiliki padanan yang pas untuk istilah baru dalam ilmu biologi atau kebidanan ini? Apakah padanannya ibu tumpangan, karena si ibu ditumpangi janin orang lain? Ataukah lebih tepat ibu pinjaman, karena rahimnya dipinjam untuk menumbuhkan janin hasil pembuahan telur wanita lain? Sampai sekarang masih belum ada satu kata yang digunakan secara “umum” oleh para penerjemah, dan setahu saya juga belum ada dalam kamus istilah kedokteran atau biologi.

Istilah lain yang mungkin perlu kita pertimbangkan kembali adalah istilah ibu kandung. Siapakah yang dinamakan ibu kandung di zaman sekarang ini? Apakah dia surrogate mother, ataukah biological mother?

Sementara itu, kata atau istilah baru yang terus bermunculan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan ternyata ada juga yang sudah muncul dalam KBBI maupun kamus istilah yang diterbitkan Pusat Bahasa. Contohnya antara lain kata pindai sebagai padanan kata scan; kata pajan, papar, dan dedah yang bersaing untuk dipadankan dengan kata expose. Kata payar yang sering digunakan oleh kalangan dokter adalah tawaran lainnya untuk kata scan, dan ini belum tercantum dalam KBBI.

Kata seperti spreadsheet, web hosting, online, upgrade, bahkan install dan uninstall di bidang komputer masih terus dicari padanannya yang “pas.”


b. Perkembangan bahasa gaul

Di Bahtera cukup banyak anggota yang menanyakan istilah yang sering didengarnya dalam sinetron remaja, yang sedang marak belakangan ini, atau yang dibacanya dalam majalah remaja. Jawaban yang datang pada umumnya berasal dari Bahterawan (sebutan untuk anggota milis ini) berusia “muda.” Bergaul dengan anak-anak muda ternyata dapat “memperkaya” kosakata.

Bagaimana kamus, misalnya KBBI, menyikapi perkembangan bahasa gaul ini? Kamus Alan memuat kata seperti nyokap, bokap, pembokat, mokal, gebetan, ember, dan tajir, sementara endang bambang, misalnya, yang baru muncul belum lama ini, belum ada. Tapi, semua kata ini ternyata tidak ada dalam KBBI, sementara kata seperti belik, belingut, cabir, dakaik tercantum, padahal boleh dikatakan tak seorang pun pengguna BI sekarang ini tahu apa artinya!


Sikap pengguna
Dari pengamatan selama sekitar 20an tahun bergaul dengan penulis, penyunting, dan penerjemah, saya menyaksikan sikap pengguna yang berlain-lainan dalam menyikapi perkembangan BI ini; ada yang sangat ekstrem dan teguh memegang pendapatnya, namun banyak juga yang bersikap “moderat,” bahkan ada yang menelan mentah-mentah pendapat orang lain.

a. Menggali kekayaan kosakata sendiri
Ketika membaca tulisan berbahasa Indonesia, sering saya menemukan kata yang tidak saya pahami artinya. Langkah pertama yang saya ambil biasanya membuka KBBI. Jika tidak tercantum dalam KBBI, barulah saya bertanya kepada penulisnya (kalau kenal dan mudah menghubunginya). Misalnya, dalam tulisan Bondan Winarno beberapa waktu yang lalu, saya menemukan kata gagrak arsitektur. Setelah ditanyakan ke penulisnya, ternyata gagrak adalah kata yang digali sendiri oleh si penulis untuk padanan genre. Konon kata ini berasal dari kosakata Jawa.

b. Mencipta atau merekayasa kata atau istilah baru
Sejumlah orang, biasanya ilmuwan atau penerjemah, sering memerlukan istilah untuk konsep tertentu. Contohnya, istilah nirkabel dan nirlaba yang memanfaatkan bubuhan “nir” yang menyatakan bentuk terikat bukan atau tidak. Ada juga yang mencoba memasarkan suratron (akronim dari surat elektronik) untuk padanan email, inderaja yang digunakan kalangan geologi dan geodesi untuk padanan remote sensing.

Memang, diperlukan waktu agar suatu istilah diterima dan digunakan oleh masyarakat. Bantuan penyebaran melalui media massa, majalah, buku terjemahan – dan sekarang Bahtera! – akan dapat mempercepat penerimaan (atau penolakan!) istilah yang dipasarkan itu. Contoh yang masih hangat adalah pemasaran istilah milis untuk mailing list yang tampaknya sudah diterima secara luas. Istilah perangkat lunak dan perangkat keras untuk software dan hardware, meskipun panjang, juga cukup cepat diterima pengguna, tapi istilah shareware masih mencari-cari padanan yang “pas.”

Berbagai kata dan istilah baru ini muncul dalam kamus, khususnya kamus istilah bidang yang bersangkutan. Namun, dalam KBBI pun, yang tergolong kamus umum, sudah tercantum entri perangkat dengan kata turunannya perangkat lunak dan perangkat keras, sebagaimana halnya sejumlah kata yang diawali dengan bubuhan nir seperti nirselera, nirwarta, nirguna. Jika kita membuka kamus Alan, ternyata kata-kata ini juga ada!

Menurut pengamatan saya, istilah atau kata bentukan “baru” seperti itu akan lebih mudah diterima pengguna jika mereka mudah menebak artinya. Misalnya kata-kata yang berawal dengan bubuhan nir ini cukup pesat pertumbuhannya. Saya pernah melihat seorang penjual semangka di tepi jalan yang mengiklankan jualannya sebagai "semangka nirbiji"!

c. Menyerap berdasarkan atau dengan mengabaikan pedoman EYD
Kita ketahui bahwa Pusat Bahasa sudah menerbitkan dan menyebarluaskan buku kecil Pedoman EYD dan Pedoman Pembentukan Istilah, namun tampaknya masyarakat pengguna masih belum paham sepenuhnya di saat mereka berhadapan dengan kata yang ingin diserapnya. Misalnya, bagaimana menyerap kata psychology? Saya amati kata ini cukup banyak ragam ejaannya – psykologi, psikology, psykology – padahal berdasarkan pedoman penyerapan kata asing, kata ini seharusnya diserap menjadi psikologi.

Memang, Pusat Bahasa menetapkan aturan bahwa BI menyerap kata asing sedekat mungkin dengan ejaan atau cara penulisannya dalam bahasa asalnya. Ini berbeda dengan kaidah penyerapan kata dalam Bahasa Melayu yang berpedoman pada lafal. Karena itulah terdapat perbedaan dalam kedua bahasa serumpun itu untuk sejumlah kata yang bermakna sama. Contohnya: pipe, pipa, paip; television, televisi, televisyen; agent, agen, ejen; taxi, taksi, teksi.

Kesulitan muncul ketika pengguna BI berhadapan dengan kata asing yang rumit ejaannya, misalnya spreadsheet, email, file, online, download. Bagaimana menyerap berbagai istilah ini jika kita berpedoman pada ejaannya? Ada sejumlah orang yang menyerapnya dengan tidak semena-mena menjadi spredsit, imil, fail, onlain, donlod. Saya sendiri sangat risi membaca kata serapan seperti ini! Bagi saya pribadi, jika belum menemukan padanan yang “pas,” lebih baik meminjamnya saja! Syukur alhamdulillah KBBI tidak memuat kata serapan macam ini. Atau apakah saya yang kurang jeli menyelisiknya?

Dengan kaidah penyerapan yang berpedoman pada ejaan ini, banyak kata asing (baca: Inggris) yang dengan mudah diserap dengan beranalogi pada kata lain. Contohnya adalah kata prediksi, eksibisi, edukasi. Masalahnya, apakah kita rela jika KBBI dipenuhi oleh kata-kata seperti ini? Bukankah dengan mudah kita bisa memadankannya dengan kata milik sendiri, yakni ramalan, pameran, dan pendidikan? Saya rasa, masalahnya di sini terletak pada kebanggaan atau ketidakbanggaan kita menggunakan kata sendiri.


Sikap penyusun dan penerbit kamus
Menyikapi perkembangan dan pertumbuhan kata dan istilah baru yang demikian pesat, tidak pelak lagi, penerbit dan penyusun kamus pastilah kewalahan. Apakah mereka perlu memasukkan semua kata baru itu dalam kamus terbitannya? Setebal apa kamusnya? Dan bagaimana menentukan harga jualnya?

Jika kamus itu berbentuk elektronik, mungkin pelaksanaan teknisnya tidak terlalu sulit. Bentuk cakram padat tampaknya bisa dijadikan pilihan. Namun, cakram padat amat mudah digandakan dengan biaya yang sangat rendah sehingga hantu pembajakan tentulah sangat mengerikan, baik bagi penerbit maupun penyusun kamus. Saya sendiri bukan penerbit sehingga tentulah tidak terlalu memikirkan hal ini. Bagi saya sebagai pengguna, semakin lengkap sebuah kamus, dan semakin mudah menggunakannya, tentu itulah yang dicari.

Cara lain adalah dengan menerbitkan kamus khusus, misalnya kamus istilah bidang tertentu, seperti yang sudah dilaksanakan Pusat Bahasa. Namun, berdasarkan pengamatan sekilas, kamus istilah yang banyak beredar dewasa ini sebetulnya lebih tepat dinamakan glosari karena isinya berupa penjelasan kata yang dijadikan entri, bukan padanan kata, padahal yang diperlukan pengguna, khususnya penerjemah, biasanya padanan kata suatu istilah asing. Perlu disayangkan pula bahwa berbagai kamus istilah yang diterbitkan Pusat Bahasa amat sulit dicari di toko buku, padahal peminatnya pastilah membludak (ada dalam kamus Alan!)

Cara lain lagi adalah dengan menerbitkan kamus praktis, yang hanya memuat kata-kata yang sering digunakan. Katakanlah kamus yang berisi lima puluh ribu atau seratus ribu kata yang paling sering muncul di media massa. Kata stem cells dan clone, yang meskipun merupakan istilah ilmiah, tapi sering muncul di media massa. Menurut saya, kata semacam ini sepatutnya muncul juga dalam kamus umum semacam KBBI agar para pembaca media bisa mencari artinya di situ, tanpa harus membuka kamus istilah.

Kamus jenis mana pun yang disusun dan diterbitkan, pastilah akan disambut gembira oleh para penggunanya, khususnya para penerjemah. Bahkan di milis Bahtera telah berulang kali dimunculkan perlunya tesaurus BI. Rupanya berbagai kamus yang beredar saat ini masih belum memenuhi kebutuhan mereka.


Penutup
Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa para pengguna kamus di lapangan (baca: penerjemah khususnya, serta penulis dan penyunting pada umumnya) masih belum banyak terbantu oleh keberadaan berbagai kamus yang beredar sekarang ini. Berbagai konsep baru yang terus bermunculan dalam berbagai bidang ilmu masih belum ada padanannya dalam berbagai kamus istilah, baik yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa maupun penerbit lain. Hal ini tampak dari jenis pertanyaan yang terus bermunculan di milis Bahtera dan forum penerjemah semacam Proz.com, yang menunjukkan bahwa sering sekali masalah yang dihadapi para penerjemah ini tidak terpecahkan oleh kamus. Seperti yang saya kemukakan di atas, kamus istilah yang banyak beredar pada umumnya lebih cenderung menerangkan istilah atau konsep dalam bahasa asing, bukan menawarkan padanan dalam bahasa Indonesia.

Apalagi dengan semakin pendeknya jarak antartempat di dunia ini serta semakin eratnya komunikasi di antara para pengguna bahasa berkat adanya internet, semakin besar pula peranan para penerjemah dalam menyediakan dokumen dalam bahasa setempat. Perkembangan kosakata asing yang demikian pesat yang harus dihadapi para penerjemah haruslah disikapi dengan bijak, baik oleh para penerjemah itu sendiri, dan terutama oleh para penyusun dan penerbit kamus. Sikap mana yang hendak diambil, menggali dari kekayaan bahasa sendiri yang selama ini terpendam dalam KBBI, sementara pengguna berteriak-teriak betapa miskinnya bahasa Indonesia? Atau menciptakan padanan sendiri, lalu menawarkannya kepada masyarakat, dan ditampung dalam kamus? Atau sekadar menyerap dan memperkaya KBBI dan kamus sejenis dengan kata serapan yang kadang “menggelikan” ejaannya?

Kegiatan penerjemahan memang tidak bisa dilepaskan dari peranan kamus sebagai salah satu alat bantu penerjemah. Karena itulah, upaya Alan M. Stevens bersama rekannya A. Ed. Schmidgall-Tellings yang berusaha merangkul perkembangan bahasa yang hidup dalam masyarakat patut diacungi jempol. Mana ada kamus dwibahasa yang salah satu bahasanya memuat “awalan” dan “akhiran” yang hidup dalam masyarakat, padahal “menyalahi” tatabahasa? Coba lihat, dengan jelinya kamus Alan memuat bentuk-bentuk yang tidak baku, namun sering digunakan oleh masyarakat, seperti awalan ng– dan kombinasinya dengan akhiran –in (ngadak-ngadak, ngapain) dan nge– (ngebul, ngebut, ngegongin). Kumpulan bentuk yang tidak baku ini terdapat dalam tabel di bagian awal kamus, yang mengupas cara menggunakan kamus tersebut.

Jelaslah bahwa kamus ini disusun dengan berkiblat pada kebutuhan penggunanya. Pengakuan Alan bahwa dia mendapatkan banyak masukan dari anggota milis Bahtera menunjukkan betapa Alan sangat memperhatikan para pengguna ini. Suatu sikap yang amat bijak! Dengan sikap seperti ini, kamus Alan pastilah akan semakin memperkaya khazanah perkamusan kita, dan sangat membantu para penggunanya, khususnya para pengguna BI yang bukan penutur asli, selain juga para penutur asli BI yang menulis dalam bahasa Inggris.

Terima kasih pula perlu ditujukan kepada Mizan yang telah menyediakan kamus ini bagi para penggunanya di Indonesia, yang sekarang tidak usah jauh-jauh memesan lewat amazon.com dan membayar dalam USD. Apalagi harga jualnya di Indonesia sangat memperhatikan daya beli penggunanya!


Bandung, 2 Agustus 2005
Sofia Mansoor
sofia@melsa.net.id
http://sofiamansoor.com

Selamat Mengejar Makna!

Makna adalah harta terpendam dalam tiap kejadian atau rasa dalam riwayat kehidupan ummat manusia. Tidak hanya untuk seorang 'tukang terjemah' (sengaja pakai istilah ini, karena rasanya gelar 'penerjemah' sangat berseni) seperti saya tapi juga untuk Anda, kita semua.

Ia tidak hanya ada dalam bahasa, juga dalam diri Anda. Temukan ia! Akrabkan diri dengannya! Dan petik manfaat darinya! Jangan pernah melupakan makna. Karena tanpanya hidup Anda tak bermakna!

Selamat mengejar makna dalam hidup kita!