Alhamdulillah, pada bulan Mei 2006, salah satu cerpen saya berjudul "Catatan Harian Gembel Cilik" berhasil lolos seleksi bersama 9 cerpen terpilih lainnya dalam kumpulan cerpen "Orang-Orang Pinggiran" yang dieditori Rosidi Eros (editor lepas dari Jawa Tengah) dan akan dipublikasikan pada pertengahan 2006.
Berikut catatan pengumumannya dan isi lengkap cerpen tersebut agar Anda dapat memaknai sebuah keberhasilan (setidaknya buat saya:-).
Selamat memaknai!
================================
Pengumuman Penerbitan Kumcer Orang-orang Pinggiran
Sehubungan dengan rencana penerbitan Kumcer Orang-orang Pinggiran (marjinal), setelah saya konsultasikan dengan Cerpenis S. Prasetyo Utomo (Semarang, Jawa Tengah), penulis buku “Bidadari Meniti Pelangi” yang diterbitkan KOMPAS, akhirnya terpilih naskah-naskah sebagai berikut:
No. Nama Judul
1 Nera Andiyanti The Regala 204B
2 Indarpati Kurir
3 Anita Kapal-kapal Kertas
4 Ragdi F. Daye Air Dingin
5 Nursalam AR Catatan Harian Gembel Cilik
6 Abdullah Khusairi Entah Leher Siapa Lagi
7 Udo Z. Karzi Di Sebuah Persimpangan
8 Sunlie Thomas Alexander Dapur
9 Fitri Mayani Ibu
10 Joko Nugroho Dara Jelita Dan Kedua Mata yang Bersamudera
Selain 10 naskah terpilih di atas, masih ada beberapa naskah yang masih saya konsultasikan kelayakannya.
Dan untuk mempercepat proses penerbitan, mohon bantuan dari kawan-kawan yang naskahnya terpilih untuk mengirimkan sekali lagi curriculum vitae (biodata diri) secara lengkap. Mungkin bisa meniru seperti yang ditulis Bang Sunlei:
BIODATA PENULIS
SUNLIE THOMAS ALEXANDER lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Sempat studi di Jurusan Disain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Menulis cerpen, sesekali puisi dan esai yang dipublikasikan di KORAN TEMPO, HORISON, JAWA POS, SUARA MERDEKA, HAI, SRIWIJAYA POST, SUMATERA EKSPRES, PADANG EKSPRES, SIJORI POS, RADAR BANJARMASIN, PIKIRAN RAKYAT, LAMPUNG POST, RIAU POS, BANGKA POS, RAKYAT MERDEKA, BERNAS, dan JURNAL CERPEN INDONESIA. Saat ini berkelana di sejumlah kota dan desa di Pulau Jawa sembari terus bergiat di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.
Demikian, terima kasih atas kerjasamanya. Terima kasih juga kepada kawan-kawan lain yang telah berpartisipasi.
Ttd.
Rosidi
==============
Catatan Harian Gembel Cilik
Oleh: Nursalam AR
KRL Jabotabek merapat di Stasiun Kota. Ratusan penumpang berhamburan turun dari delapan gerbong yang padat berjejal. Suasana pagi memaksa langkah-langkah cepat mereka menuju tempat kerja. Apalagi tadi kereta sempat terlambat satu jam. Suatu hal biasa di tengah semrawutnya manajemen PT KA Indonesia. Aku sudah hapal betul hal itu. Sebagai gembel, kunikmati saja pemandangan pagi Jakarta yang selalu tergesa-gesa. Siapa bilang jadi orang kantoran enak? Mendingan jadi gembel kayak aku, jam delapan begini masih tidur melungker berselimut sarung di peron Stasiun Kota yang bergaya arsitektur Belanda ini. Aku menguap. Kupejamkan kembali mata.
“Hey! Hati-hati dong!” Jeritan nyaring khas wanita memaksaku terjaga. Seorang wanita berlipstik tebal dan berwajah cantik meringis memegangi bahunya. Seorang pemuda berkemeja rapi di belakangnya tampak meminta maaf berkali-kali. Lantas tanpa menunggu balas, lekas melaju. Gerutuan boss di kantor tentu lebih menyeramkannya ketimbang jerit kesal wanita yang tak sengaja terdorong karena lelet melangkah di keramaian peron.
Atau dia copet?
Ah, aku tak kenal dia. Memang banyak sih teman-teman pencopet yang berpakaian rapih, jauh dari gambaran seorang pencopet yang berangasan, kumuh dan bermata liar. Kata Bang Tino, boss copet di stasiun ini, copet itu ada spesialisasinya. Jadi ada yang kumal, tapi ada juga yang rapih berkemeja seperti orang kantoran. Tidak jarang bahkan mereka dapat jodoh perempuan kantoran. Entahlah, apa alasannya kepada istrinya kelak tentang apa pekerjaannya? Barangkali setiap pagi pamit dibekali kecup mesra di dahi lantas naik kereta menggerayangi mangsa? Ah, sudahlah, itu bukan urusanku!
Tapi, asmara!
Kayak apa ya pacaran itu? Enak kali ya? Sering saat aku dinas terutama siang dam sore hari melihat pasangan muda-mudi bahkan pasangan selingkuh tampak mesra di atas kereta. Tak segan-segan melingkarkan tangan di pinggang atau mengecup pipi di tengah keramaian. Memang sih tidak ada yang protes. Penumpang lain paling sekedar melotot tanpa berkomentar; atau buang muka atau terus baca koran sambil diam-diam mengintip menikmati. Aku yang berdinas sebagai penyapu kereta enak-enak saja melihatnya. Cewek-cewek itu sexy sih. Kaos mereka menggantung, memperlihatkan pusar dan kulit perut mulus atau belahan dada rendah hingga aku yang sambil berjongkok menyapu kerap mencuri-curi lihat apa isinya. Sepertinya beda dengan punya Siti dan gelandangan perempuan sebayaku lainnya yang sering kuintip di WC stasiun.
“Yang begitu dosa, Jon,” demikian selalu tegur Mas Awang, penjaga WC umum dan mushola stasiun. “Coba kalau RUU APP diberlakukan, pasti mereka kena sanksi berat!”
“APP itu Awewe Perek-Perek ya, Wang?” sergah Kimong, si tukang koran.
Mas Awang mendengus. Ia nampaknya tak suka pertanyaan itu. Dia tahu Kimong hanya mengejeknya. Kimong selain jualan koran juga berjualan VCD porno. Bahkan di kamar kostnya di Mangga Dua, kata Yoyon, ada berkardus-kardus VCD porno. Yoyon sering diajak nonton. Aku juga pernah diajak, tapi Emak melarang. Ya, aku masih punya Emak. Sama-sama penyapu kereta.
“Kamu nggak boleh nonton begituan, Jon. ‘Ntar bikin ngeres pikiran kamu. Emang kamu punya duit apa buat maen ke Bongkaran ?” ujar Emak suatu ketika. Saat itu kami sedang menghitung hasil kerja seharian di pojok stasiun.
Ya, aku bukan orang kaya. Gembel malah. Belum dewasa pula. Usiaku masih sembilan tahun. Tapi kata Kimong tampangku seperti anak dua belas tahun. Mukaku boros, katanya. Aku sebal dibilang begitu. Kimong sendiri jauh lebih boros wajahnya daripada aku. Dengan punggung bungkuknya—kata Bang Tino karena terlalu sering onani—dan wajah hitam jerawatan, orang lebih percaya umurnya dua puluh tahun daripada enam belasan. Nah, lebih jauh kan selisihnya?
Aku tersenyum mengingat reaksi wajah Kimong yang bersungut-sungut saat aku kick balik demikian.
“Heh! Nyengir-nyengir sendirian lo! Bangun! Kerja lo!”
Aku menatap sewot. Hm, panjang umur sekali dia! Baru ada di pikiran, eh, sudah nongol di hadapan!
Tapi Kimong orangnya baik hati. Kalau penjualan VCD-nya laku keras, dia sering traktir aku makan di restoran cepat saji di lingkungan stasiun. Ya, restoran cepat saji yang aku sering berlama-lama duduk di depannya. Sekedar mengagumi makanan yang tersaji dan mengeja nama-nama menunya yang asing. French fries, fried chicken, root beer…
“Yee…malah bengong lagi! Nih makan!” Tuh, kan Kimong emang baik. Diangsurkannya sebungkus nasi uduk dengan tempe, sambal dan irisan-irisan telur. Irisan yang tipis sekali. Aku menyambarnya dengan gempita. Tanpa cuci tangan.
“Minumnya?”
“Tuh!” Telunjuk Kimong mengarah pada sesuatu di sampingku. Aku menoleh. Sialan! Sekantong es teh plastik lengkap dengan sedotan dirubungi semut. Mungkin semalam ada penumpang kereta yang membuangnya. Jika malam, peron ini beralih jadi warung.
Aku cemberut. Kimong tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-terbatuk.
“Lo gembel kayak raja aja, serba dilayanin. Minta aja sama Mas Awang. Dia lagi pesen teh manis tuh. ”
“Nggak enak minta mulu tiap hari sama dia. Dia kan baek banget.”
“Emang lo punya duit?”
Aku menggeleng.
Kimong tersenyum. “Nih, gua kasih. Tiga puluh. Sekalian bilangin sama mak lo. Entar malam gue tunggu di kos-kosan gue. Bilangin ye, awas kalo kagak!”
Kimong bergegas pergi. Ada dua cewek celingukan di depan kios korannya, hendak membeli koran tampaknya. Ada dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan lecek di tanganku. Aku tak tahu persis apa hubungan Emak dengan Kimong. Emak tidak cantik, tapi bodinya montok, kata Kimong. Jarak umur mereka terpaut sepuluh tahun. Tapi aku lihat Emak sering begitu penurut ketika Kimong memberinya isyarat-isyarat tertentu. Dan menuju WC stasiun bergantian. Belasan menit kemudian mereka baru keluar. Biasanya Kimong keluar dengan wajah sumringah dan merapikan celana. Sementara Emak tampak mengusap-usap mulutnya seraya berkali-kali meludah. Atau kadang-kadang justru Kimong yang mengelap mulut sementara Emak merapikan bagian atas bajunya.
Jerit kereta jurusan Serpong di lintasan paling ujung menyadarkanku. Lekas-lekas kuhabiskan sarapan gratisku. Aku punya acara rutin sebelum berangkat kerja. Ya, menulis catatan harian pada buku notes yang selalu setia kuhimpit di bawah tikar lusuhku. Segala renungan dan apa yang kulihat kucatat di situ. Memang aneh buat orang lain. Emak, Bang Tino apalagi Kimong. Yang mengapresiasi cuma satu orang: Mas Awang. Dia bilang aku gembel intelek. Apapun itu maksudnya, rasanya julukan itu cukup keren buatku.
***
“Aqua…aqua! Kopi…!”
“Koran…koran…!”
“Orang pinggiran...o ea eo...o ea eo..Ada di trotoar...o ea eo...o ea eo. Ada di bis kota...o ea eo...o ea eo…Ada di pabrik-pabrik...o ea eo...o ea e.. Orang pinggiran...o ea eo...o ea eo…..Di terik mentari...o ea eo...o ea eo.…Di jalan becek...o ea eo...o ea eo…..Menyanyi dan menari...o ea eo...o ea eo...”
Meriah sekali kereta jam satu siang ke arah Bogor ini. Tukang asongan berseliweran dari gerbong ke gerbong. Full music pula. Lima orang pemuda tanggung masing-masing menggebrak dengan lagu “Orang Pinggiran”-nya Iwan Fals. Aku paling senang melihat band gerbong ini beraksi. Terampil sekali mereka menjaga keseimbangan antara berdiri di tengah gerbong yang laju keretanya terkadang oleng menghantam batu-batu iseng yang ditaruh orang di lintasan rel besi, dan menjaga kontrol pukulan drum atau petikan gitar. Belum lagi ditambah angin kencang yang kadang berhembus dari pintu-pintu gerbong yang memang tak pernah tertutup di kedua sisi kereta, dan dari jendela-jendela yang retakannya menjalar.
Anjir ! Angin berhembus kencang seiring laju KRL Pakuan Ekspress di sebelah kereta ini. Debu tebal di lantai kereta berhamburan menggulung, menghajar mukaku. Cuih! Terpaksa kuludahkan debu yang memaksa masuk mulutku. Cairan kental kehijauan meluncur cepat dari kerongkongan.
Plak! Sekonyong-konyong kepalaku bergoyang hebat. Apakah kereta ini menubruk kereta lain atau ada yang iseng menarik rem darurat? Yang jelas mendadak pening menyergapku. Dalam keterkejutan dan nyeri, aku baru menyadari sepasang sepatu lars tentara yang tadi menyepak kepalaku. Ternyata ludahku salah mendarat!
“Maaf, Pak,” aku mengatupkan tangan, tetap dalam posisi dinasku: berjongkok. Pemilik sepatu lars itu menatap tajam. Tampaknya ia belum puas.
“Sembarangan kamu. Kotor ini sepatuku!”
“Nggak sengaja, Pak,” ujarku, dengan suara yang kuupayakan lirih. Agar lebih meyakinkan, aku bersujud di sepatunya. Selintas kulihat pandangan jijik penumpang lain. Ah, biarlah! Toh, mereka juga diam saja melihat kutu kecil ini teraniaya!
“Karcis-karcis…..” kondektur kereta mengedarkan tangannya, menjemput tiket-tiket di antara penumpang. Kereta ke arah Bogor menjelang siang ini memang relatif lebih lengang dibandingkan ke arah sebaliknya, Jakarta.
“Abo! ” seru seorang pemuda yang berdiri di sampingku. Ia membawa tas ransel yang dikedepankan di dadanya. Mungkin ia mahasiswa. Kondektur menatapnya sekilas, menerka usia dan kejujuran jawabannya. Lantas beralih kepada seorang bapak-bapak yang terkantuk-kantuk di sebelah pemuda itu. Tergopoh-gopoh bapak itu mengambil selembar ribuan dari kantongnya. Lembar itu pun berpindah tempat ke kantong kondektur yang tampak gembung.
Tangan kondektur mencolek si pemilik sepatu lars yang berdiri pongah di depanku.“Anggota! ” Tegas suaranya.”Nggak lihat?!” tanyanya dengan mendelik. Kondektur muda berjanggut tipis itu tergugup. “Maaf, Pak. Gak keliatan.”
Si tentara mendengus. Ia kembali beralih padaku yang masih terpaku, berjongkok sambil memegang sapu ijuk. Aku memutar akal bagaimana keluar dari situasi tak mengenakkan begini. Tak cukupkah kepalaku ini merunduk hina di kakinya?
“Eh! Udah sana, jalan lagi. Pindah ke gerbong sana!” Si kondektur muda menepuk bahuku, sambil mengusirku. Entah apakah ia paham kondisiku atau aku jadi pelampiasan kekesalannya disemprot si Tentara. Aku beringsut cepat, berdiri dan setengah berlari menuju gerbong sebelah. Aku tatap si Kondektur muda. Aku ucapkan terima kasih padanya. Dalam hati.
Setengah melompati sambungan antargerbong yang bergoyang-goyang hebat yang salah-salah kaki bisa terjeblos ke bawah, aku menubruk Kimong.
“Brengsek lu!” Ia mengusap-usap jidatnya yang tersundul kepalaku. Ia memunguti beberapa korannya yang terserak di lantai.
“Maaf, Mong, kok naek ke atas juga? Kios siapa yang jaga?” ujarku, coba mengalihkan kemarahannya.
“Ada Sidin, anak baru yang baru datang dari kampung. Biar aja, gue lagi ngebet nih,” jawabnya merengut. “Emak lo mana?”
“Emang nggak ketemu?”
“Ngapain juga gue tanya kalo udah ketemu!” Ia bergeser merapat ke sebelahku. Gerobak kecil penjual minuman ringan lewat, meluncur di atas empat roda besinya. Berturut-turut di belakangnya tukang telur puyuh, penjual buku tulis dan abang-abang tukang boneka.
“Kemana dia?”
“Nggak tau. Bukannya nanti malem?”
Kimong mendelik. “Itu urusan gue. Awas ye, kalo kagak, balikin lagi duit gue!” Kimong melompat ke gerbong sebelah. Punggung bungkuknya bergoyang-goyang seperti punuk unta yang tengah berjalan.
Ah, Emak, kemana engkau? Dari semalam aku memang tidak melihatnya. Meski kami bersama, kami tidur terpisah, sesuai urusan masing-masing. Sekali dua Emak juga tidur menemaniku. Itu saat-saat terindah. Bagaimanapun, aku masih seorang anak yang merindu belaian ibu. Biar gembel, aku juga manusia.
***
Di Stasiun Duren-Kalibata. Aku duduk mengaso di bangku besi peron. Angin semilir dari sela-sela rumpun bambu menelusup menyegarkan. Ini salah satu stasiun favoritku untuk sekedar santai. Masih banyak pepohonan rindang di kiri kanan stasiun. Tak heran perumahan wakil rakyat pun bertempat tak jauh dari stasiun. Dan taman makam pahlawan hanya berjarak kurang dari satu kilo dari sini.
Tanganku meraba mencari batang rokok di saku celana pendekku. Sejenak aku lihat bekas luka buatan di paha. Pintar sekali Bang Tino membuatnya. Katanya, biar penumpang kasihan dan duitku makin banyak katanya. Dengan tambahan bau-bauan tertentu, jadilah luka bakar yang mengerikan. Sekaligus menjijikkan.
Asap rokok mengepul ke udara. Nikmat sekali dunia meski hanya sebatang rokok di tangan. Aku raba kantong bekas bungkus permen sebagai tempat sedekah. Ah, masih kempes. Sejak kenaikan BBM, rasanya penumpang makin pelit mengeluarkan recehan mereka. Pesaingku pun makin banyak saja.
Kereta arah Jakarta merapat. Sesosok tubuh kurus yang amat kukenal turun. Celingukan sebentar, lalu menarikku ke atas kereta. Aku menurut saja. Ia selama ini sangat baik padaku.
“Emak kamu, Jon,” jawabnya pendek ketika kutanya ada apa.
Pandanganku menerawang. Ada apa dengan Emak? Kulirik Mas Awang. Pandangannya lurus ke luar jendela. Tampak ia gelisah. Kata Emak, Mas Awang mirip sekali almarhum bapak. Aku senang sekali mengetahuinya karena Mas Awang baik. Berarti bapakku orang baik juga. Demikian kesimpulanku. Aku sendiri tak pernah tahu bapakku seperti apa.
“Sayangnya tidak, Jono. Bapakmu kabur setelah menghamili Emak. Dia tidak mau menikahi Emak. Denger-denger dia jadi TKI di Malaysia. Moga saja dia mati dicambuk di sana!” Geram sekali nada suara Emak menceritakannya. Malam itu Stasiun Kota sepi. Hanya cekikik perempuan malam dan suara berisik botol pecah terdengar di kejauhan. Entah apakah dari luar stasiun atau di dalam. Karena di stasiun ini banyak penghuninya.
“Kenapa Emak ga kawin aja sama Mas Awang? Dia kan bujangan tua!” tanyaku polos. “Orangnya baik lagi.”
Kuingat waktu itu Emak terkekeh sambil memegangi pipinya yang memerah tersipu. Di usia kedua puluh enam, Emak tampak lebih tua didera derita. Sejak terpaksa melahirkan anak tanpa suami, Emak diusir keluarganya dari Kuningan, Jawa Barat. Ia terpaksa merantau ke Jakarta dan kerja apa saja demi hidup dan tempat tinggal karena saudara-saudaranya di Jakarta tidak mau terima perawan bunting tanpa suami. Aku yang masih bayi ditinggalnya di kampung.
Awalnya Emak bekerja jadi pembantu di rumah duda bule di daerah Kemang. Tapi karena bule itu kejam dan meminta dilayani tiap malam, Emak kabur. Hinggaplah ia sebagai pelayan di lapo tuak di terminal Kampung Rambutan. Namun karena sering digusur tramtib akhirnya warung itu tutup. Terpaksalah Emak menggelandang. Aku baru ikut Emak setahun ini karena Emak tidak enak hati menitipkan aku selama delapan tahun pada orang tuanya tanpa bisa kirim uang banyak tiap bulan. Melanjutkan sekolah pun menjadi terlalu mewah bagiku. Cukuplah aku sampai kelas tiga SD, begitu kata Emak.
“Masak sih lonte ga punya duit?!” begitu selalu sindir nenekku. Aku cuma ingat Emak sampai bersujud memohon ampun dan bersumpah bahwa ia tidak pernah melacur kendati bekerja di tempat-tempat yang berisiko demikian.
Hingga pada suatu malam. “Kepalang tanggung, Jon. Kita jujur dibilang maling ya sekalian aja jadi maling,” ujar Emak lirih sewaktu aku bertanya kepadanya tentang sebuah kejadian pada suatu malam.
Saat itu aku terbangun dari tidur yang bersisian dengan Emak. Suara-suara aneh mengusik telingaku. Kulihat Emak bersama Kimong. Di atas alas kardus. Aku pun pura-pura tidur pulas kendati Emak berkali-kali menoleh ke arahku di tengah-tengah desah-desah anehnya dan gerak liar Kimong. Aku hanya ingin menentramkan Emak bahwa aku anaknya tak tahu apa yang dilakukannya malam itu. Meski pada akhirnya aku tak tahan lagi untuk bertanya setelah beberapa minggu kemudian. Emak pun hanya bisa menjawab lirih seraya tampak berusaha menahan isak. Bila Kimong berhasrat, ia tak kenal waktu dan tempat. Anehnya, Emak selalu menurut saja.
“Mas Awang orang baik, Jon, terlalu suci buat Emak,” Emak akhirnya menjawab pertanyaanku untuk menjodohkannya dengan Mas Awang. Lenyaplah harapanku dapat figur ayah yang baik. Tapi sekali dua kulihat tatapan Emak yang agak lain kepada Mas Awang. Entah ada apa sebenarnya di hatinya.
“Kamu harus tabah ya, Jon. Allah suka orang yang tabah,” ujar Mas Awang seraya mengusap-usap bahuku. Ah, Allah! Nama yang jauh dariku. Aku jarang sholat kecuali jika Mas Awang menanyaiku. Maka sholatlah aku di musholla stasiun yang dijagainya. Tak enaklah aku pada orang yang telah berbaik hati menyilakanku dan Emak mandi gratis di WC yang ditungguinya dan kasih sarapan cuma-cuma setiap hari. Mendadak aku rindu belaian Ayah. Mas Awang adalah yang pantas buat Emak, bukan Kimong.
“Kamu jangan sering-sering minta makan sama Mas Awang. Nggak enak tau. Emak kan gak bisa balas apa-apa sama dia. Lagian uang tambahan Emak juga lumayan buat makan kita berdua!” wanti-wanti Emak selalu. Tapi aku tahu asal uang tambahan Emak itu.
Ya, Kimong!
Nama itu melekat di benakku.
Kereta merapat di Stasiun Kota. Aku menurut saja dibimbing Mas Awang setengah berlari menuju kantor keamanan stasiun. Sudah banyak orang berkerumun. Susah-payah aku dan Mas Awang menerobos. Beberapa penghuni stasiun yang mengenalku menatapku iba. Ada apa ini?
“Tumben ada pemeriksaan ketat, emangnya ada apa?”
“Biasalah, ada pejabat mau datang tiga hari lagi. Jadi ada pembersihan.”
Secuplik percakapan itu menghenyakkanku. Lalu apa hubungannya kedatangan pejabat itu dengan apa yang menimpa Emak?
Kutemukan jawabnya ketika akhirnya kami berhasil menembus kerumunan orang. Emak tertunduk, menutupi wajahnya. Punggungnya terguncang-guncang, menahan isak. Kimong hanya diam, merengut. Ia melirik sinis ke arah Emak.
Ya, Kimong! Darahku naik melihat tatapan sinisnya pada Emak.
Ternyata siang itu Kimong memaksa Emak ke WC seperti biasa. Malang, petugas keamanan kali ini bersikap di luar kebiasaan. Keduanya digerebek di WC. Dan dibawa ke kantor keamanan karena dianggap mengotori lingkungan stasiun. Entahlah padahal biasanya kami dan para keamanan itu hidup berdampingan seperti ikan dalam akuarium. Hanya jenis kami yang berbeda. Ah, segalanya jadi berbeda karena seorang pejabat yang justru tak akrab dengan kami.
***
Tiga hari kemudian. Aku merangsek masuk menerobos kerumunan pengunjung stasiun. Ada tontonan gratis. Sang Pejabat tampak di depan loket tiket, berbincang-bincang dengan petugas tiket yang terus-terusan pasang senyum yang disetel sedemikian otomatis. Sesekali Pejabat tertawa, dan perut bulatnya terguncang-guncang. Kata Mas Awang, pejabat itu hendak meninjau kondisi KRL Jabotabek apakah sudah cukup memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang demi menyambut globalisasi.
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan demikian. Baju baru di badanku terasa gatal. Tapi kata Mas Awang aku harus mengenakannya karena Pak Kepala Stasiun tidak menginginkan ada gembel berkeliaran pada hari ini. Ini hari istimewa. Stasiun pun tampak luar biasa resik dari biasanya. Jadi khusus hari ini aku berbaju kemeja rapih dan celana panjang pemberian Mas Awang. Entah bagaimana dengan Emak. Kabarnya sejak kemarin sore ia dikirim ke Kedoya untuk menjalani pendidikan ketrampilan untuk tidak jadi gelandangan lagi. Aku turut senang. Tapi kata Bang Tino, Kedoya itu adalah tempat penampungan pelacur.
Lalu, Kimong? Hari ini pun aku tidak melihat batang hidungnya. Padahal sejak tadi bilahan besi tipis yang sudah kulindas di rel kereta sudah kusiapkan di tangan. Aku ingin menebus rasa malu Emak yang dipermalukan di depan umum. Biar gembel, kami punya harga diri dan aku anak yang berbakti.
“Bagus-bagus, kerja Anda bagus, Pak,” puji Pejabat sambil menepuk-nepuk bahu pak Kepala Stasiun. Pak Kepala Stasiun tersenyum-senyum. Dalam penglihatanku kumis lebatnya tampak mengembang. Aku merangsek lagi, mungkin kudapati Kimong di antara pengunjung yang mengerumuni sang pejabat dan Pak Kepala Stasiun. Mataku nyalang mencari di sela-sela tubuh yang mengerumun.
Aduh! Desakan pengunjung yang ingin melihat Pejabat lebih dekat menerpaku yang tengah celingukan. Cling! Besi tipis lindasan yang telah kuasah itu berdenting di lantai, terlepas dari tangan. Aku lekas memungutnya. Sekonyong-konyong ada yang berteriak. Entah apa, tak jelas karena sekonyong-konyong kepalaku bergoncang hebat. Yang jelas aku tidak sedang dalam kereta. Hanya terdengar, “Tangkap teroris itu!” Siapa yang teroris?Setelah itu aku tak sadarkan diri.
Ketika siuman, kudapati diriku di balik sel dingin. Jeruji kokoh menghalang. Buku catatanku entah kemana. Aku mulai menuliskan catatan harianku dalam benak.
Ya, inilah catatan harianku yang kuceritakan padamu selepas mendekam dua malam di sel dingin berbau pesing. Mas Awang yang menebusku. Aku dan Emak pun kembali. Ya, kami kembali ke akuarium yang sama, sebagai ikan yang sama. Entah sampai kapan. Bertanyalah pada peluit kereta yang langsam. Jangan pada Pejabat yang kemarin lusa berkunjung. Konon dia langsung stroke mendadak sejak kejadian itu.
Jakarta, 29-30 Mei 2006.