Friday, August 11, 2006

Resensi Novel "24 Wajah Billy"

Jika belum sempat membaca novelnya, baca dulu deh resensinya. Baru lanjut ke sekuelnya yang sudah terbit di berbagai toko buku.

Selamat memaknai!

==========================
24 Wajah Billy: Kisah Tanpa Titik
Oleh Nursalam AR*)

24 Wajah Billy
· Judul asli: The Minds of Billy Milligan
· Penulis: Daniel Keyes
· Penerjemah: Miriasti dan Meda Satrio
· Penyunting: Budhyastuti R.H.
· Penerbit: Qanita, Bandung
· Cetakan: I, Juli 2005
· Tebal: 699 halaman
“Kenalilah dirimu,” pesan Iman Ghazali, sang pemikir besar Islam bergelar Hujjatul Islam yang terkenal dengan produktivitas dan kedalaman karya-karyanya seperti Ihya Ulumuddin dan Tahafut Al Falasifah. Dengan nada yang sama, Plato dan Aristoteles menggaungkannya sejak ribuan tahun lalu. Sungguh, mengenali diri sendiri adalah sebuah misteri kehidupan dan peradaban sepanjang masa. Telah banyak buku ditulis tentang bagaimana mengenal diri, namun fakta-fakta baru tentang fenomena diri dan kepribadian terus bermunculan, dengan mengejutkan. Sebelumnya, Sybil menghentak dengan 16 kepribadian yang dimilikinya. Kisah hidupnya telah dibukukan dengan judul yang sama dan diterjemahkan oleh Prof. Sarlito Wirawan Sarwono yang juga memberikan endorsement (pujian) atas penerbitan novel 24 Wajah Billy ini.

Kasus William Stanley (Billy) Milligan dari Ohio, Amerika Serikat, pada penghujung tahun 1970-an ini menambah deret panjang fenomena sosial tersebut, di mana kasus Billy, orang dengan kepribadian majemuk ini (untuk menghindari stigmatisasi kata ‘penderita’), merupakan satu dari sekian banyak eksperimen alamiah yang akan menjelaskan jauh lebih banyak hal kepada kita, tentang kita sendiri (hal. 696).

Bagaimana kita memahami bahwa dalam diri seseorang bersemayam beragam kepribadian yang bertolakbelakang? Ia pria Inggris yang cerdas dan rasional (Arthur) sekaligus orang Balkan yang jago bela diri dan emosional (Ragen); penjahat brutal yang kasar (Philip) tapi sekaligus bocah tanggung yang sangat penakut (Danny); perempuan lesbian yang haus belaian (Adalana) dan gadis cilik usia tiga tahun penderita disleksia (Christene)?

Billy Milligan ditangkap karena melakukan serangkaian tindak kriminal yang dilakukan 2 (Kevin dan Philip) dari 24 kepribadian yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya, pria tampan berusia 26 tahun ini ditangkap karena memperkosa tiga orang mahasiswi di kampus Ohio State University. Tim pembelanya dengan bantuan Dr. Caul, seorang psikiater yang berempati pada Billy, berupaya membuktikan—di tengah intervensi politisi dan pengadilan publik via media massa--bahwa Billy tidak bersalah karena semua tindak kriminal tersebut dilakukan tanpa disadari pribadi intinya (yang disebut Billy-Unfused atau Billy-U) karena ke-23 pribadi yang lain silih berganti muncul ke ‘tempat utama’ (dengan komando Arthur) dan kerap membuatnya kehilangan waktu dan tampak aneh sekaligus memiliki berbagai bakat seperti bela diri, melukis, bahasa asing atau kedokteran. Tahun 1988, setelah sepuluh tahun mendekam di rumah sakit jiwa, Billy dibebaskan dengan pribadi yang menyatu (yang disebut sang Guru) dan tinggal di California dan memiliki perusahaan film Stormy Life Productions.

Tema yang unik ditambah penuturan cerita yang runut menjadikan membaca novel yang tebalnya dua kali tebal novel pada umumnya ini cukup mengasyikkan. Meski pembukaan awal terasa lamban dan membosankan, alur mengalir mulus dan menggigit dengan cerita yang kompleks, lebih rumit dan sangat filmis. Berbeda dengan pola-pola multiple personality (kepribadian majemuk) yang umum dikenal dan menjadi ikon dalam benak masyarakat, seperti Dr. Banner dalam komik dan film Hulk atau legenda dari Inggris Dr. Jekyll & Mr. Hyde karya R.L Stevenson dalam The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde yang cenderung hitam putih di mana seseorang yang baik hati dan dermawan dapat berubah menjadi monster yang perkasa dan menakutkan yang mengusung misi kebenaran seperti lazimnya cerita-cerita klasik.

Inilah bedanya novel 24 wajah Billy. Novel ini tidak bertendensi menghadirkan kebenaran mono-tafsir atau melulu menjadi pahlawan seperti Hulk atau The Flash, ia menghadirkan realitas kemanusiaan dengan pemaknaan yang multi-tafsir. Billy terasa dekat dengan kita karena ia bukan superhero yang selalu benar atau menang. Ia manusia biasa yang gembira, kecewa, atau sedih bahkan sedemikian frustrasinya hingga berulangkali berupaya bunuh diri—bahkan ketika sekalipun yang berada di tempat utama adalah Arthur yang sangat rasional dan menganggap bunuh diri adalah perbuatan tolol. Persis seperti pepatah, life is stranger than fiction, kehidupan nyata lebih aneh dari cerita fiksi, demikian yang tergambar dalam novel ini. Betapa kehidupan Billy yang demikian dramatis dan filmis cocok sekali diangkat ke layar lebar (sekaligus disunting) oleh tokoh utamanya sendiri dengan judul The Crowded Room yang disutradarai Joel Schumacher.

Kelemahan novel ini, jika boleh dikatakan demikian, adalah gaya penerjemahan yang kaku bahkan terkesan letterlijk serta kurang cermat dengan data yang berpengaruh memperlambat laju mesin cerita. Di samping itu, cenderung terlalu bergaya ala Jakarta (baca: cair) seperti kata-kata “tauk” atau “ga” yang ditaruh dalam tuturan narasi, yang kurang dapat dibenarkan dari segi EYD. Kalaupun diniatkan sebagai sebuah hal yang sah dalam sastra—karena novel adalah karya sastra-- yang menjunjung kreativitas, gaya cuek ala Betawi tersebut mengurangi keanggunan bangunan cerita yang kokoh atau seperti pengganjal laju tuturan. Kecuali, jika ditempatkan dalam dialog, yang tentunya sesuai konteks, misalnya dalam percakapan yang dilakukan Billy—dalam pribadi Allen—yang berbisnis narkoba atau sumpah-serapah Ragen atau Tommy yang berwatak keras dan antisosial. Untungnya semua celah tersebut tertutupi dengan materi cerita yang dahsyat. Tetapi tentu novel ini akan lebih nikmat jika diolah dengan cara penerjemahan yang akurat dan cermat.

Di samping itu, dalam membaca novel ini, kita dipaksa memamah sederet fakta dan hasil riset ilmiah yang bagi kalangan selain kedokteran dan pskiatri agak lelah mencernanya. Namun, mungkin demikian konsekuensi novel yang berdasarkan kisah nyata. Ia dituntut harus tetap fasih bercerita seraya anggun berkompromi dengan tuntutan pasar serta industri yang menuntut standar mainstream novel fiksi: dialog yang terarah, klimaks, ketegangan dan antiklimaks, yang dicapai dengan salah satu bentuk kompromi yang diakui penulis sendiri yakni dengan menciptakan dramatisasi-dramatisasi atas dasar ‘kebebasan penyair’ (hal. 16)—tidak dengan tujuan menambah seru cerita karena bahan bakunya sendiri sudah sangat mendukung—tetapi agar lebih masuk dalam logika masyarakat yang terbiasa dengan kaidah bacaan fiksi konvensional.

Akhir cerita novel yang menggantung mungkin terasa kurang greget atau kurang bersantan dalam selera konvensional yang terbiasa dengan akhir cerita yang umumnya tuntas (happy ending atau sad ending). Namun, memang harus demikian, karena selain tokoh utama masih hidup dan berkutat dengan dunianya yang baru setelah menjadi pribadi yang utuh, tema tentang mengenal diri memang takkan pernah berakhir, tiada titik, hanya koma.
*) Penerjemah lepas dan penikmat buku

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home